RADAR JOGJA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIJ berencana menggunakan asesmen standar pendidikan daerah (ASPD) sebagai salah satu alat seleksi dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) jenjang SD-SMP tahun ajaran 2021/2022. Hal ini agak berbeda dengan PPDB tahun sebelumnya, di mana proses seleksi menggunakan empat jalur yakni jalur zonasi, afirmasi, perpindahan tugas orang tua atau wali, dan prestasi.

“Disdikpora DIJ menghendaki hal itu, tapi masih dalam proses,” kata Sekretaris Provinsi DIJ Kadarmanta Baskara Aji kepada wartawan Jumat (21/5). Di tahun ajaran 2021/2022, nilai ASPD bakal dijadikan aspek penilaian terakhir dalam proses seleksi siswa baru.

Dicontohkan Aji, jika kuota jalur zonasi di suatu sekolah sudah penuh, maka nilai ASPD akan dimanfaatkan sebagai salah satu komponen untuk menyeleksi siswa.

Di tahun sebelumnya, Pemprov DIJ pernah menerapkan metode yang mirip. Yakni dengan memanfaatkan nilai rapor siswa dalam proses seleksi. Pasalnya, pemerintah pusat memutuskan untuk menghapus ujian nasional (UN).
Akan tetapi hal itu menimbulkan penolakan. Pasalnya, tiap sekolah tidak memiliki standarisasi nilai rapor yang sama.

“Nah kalau di jalur zonasi sekolah tertentu berlebih, maka kan harus ada seleksi, bisa saja menggunakan raport. Tapi ingat, tahun kemarin pakai rapor itukan gaduh karena setiap guru memberikan rapor nilainya tidak standar,” jelasnya.
Karena muncul penolakan, akhirnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memutuskan untuk menggunakan nilai UN tingkat SD untuk mengukur kemampuan siswa.

Soal langkah untuk menggunakan nilai ASPD, pihaknya masih berkonsultasi dengan kementerian terkait. Nantinya, kementerian yang menentukan apakah langkah ini bisa diterapkan.

Selain itu, saat ini Disdikpora DIJ tengah menyusun peraturan gubernur (Pergub) tentang petunjuk teknis pelaksanaan PPDB. Pada PPDB kali ini sebagian besar bakal dilakukan secara daring, mengingat pandemi Covid-19 masih berlangsung.

“Mungkin ada beberapa yang terpaksa offline. Yakni orang yang memang betul tidak bisa memanfaatkan teknologi informasi,” jelas mantan kepala Didikpora DIJ ini. (kur/laz)

Jogja Raya