RADAR JOGJA – Kreatif. Itulah yang diupayakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Putri Manunggal untuk memproduksi Superbram. Usaha olahan bawang merah di Dusun Pergiwatu, Kalurahan Srikayangan, Kapanewon Sentolo, Kabupaten Kulonprogo itu sempat terpuruk penjualannya karena situasi pandemi. Namun berkat berbagai siasat dilakukan usaha tersebut pun bisa bangkit meski ditengah kondisi sulit.

Ketua KWT Putri Manunggal, Nurhayati mengatakan selama masa pandemi memang penjualan produk olahannya sempat menurun. Bahkan pihaknya sempat membatasi produksi karena penjualan yang sedikit namun harga bahan bakunya cenderung mahal.

(IWAN NURWANTO/RADAR JOGJA)

Dia pun melakukan berbagai siasat agar penjualan produknya bisa ramai kembali. Salah satunya dengan melakukan pemasaran melalui platform sosial media. Bermodal pengelolaan akun sosial media seperti Instagram dan Facebook, produk Superbram kemudian makin dilirik. Bahkan dapat menjangkau masyarakat yang berasal dari luar Kulonprogo.

Nur menerangkan, salah satu unsur penting dalam pemasaran melalui sosial media adalah dari segi desain yang informatif. Sehingga calon pembeli kemudian tertarik dan berminat untuk membeli produk yang ditawarkan. “Memang kami akui sempat terpuruk karena kondisi pandemi. Namun kami coba pasarkan melalui sosial media, dan alhamdulillah sekarang bisa bangkit kembali,” ujar Nur kepada Radar Jogja, Rabu (19/5).

Lebih lanjut, Nur mengatakan bahwa Superbram sendiri sudah diproduksi sejak 2018 lalu dan merupakan salah satu inovasi dari pihaknya, untuk memanfaatkan sumber daya Dusun Pregiwatu berupa bawang merah yang melimpah. Superbram sendiri memiliki beberapa varian diantaranya bawang goreng original, crispy dan pedas dengan berbagai ukuran kemasan.

Adapun harga dari produk Superbram dibandrol mulai Rp 20 ribu – Rp 45 ribu. Tergantung dari berat yang dikemas. Kemudian selain melalui sosial media, Nur juga memasarkan Superbram di gerai YIA dan menitipkannya di toko jejaring.”Selain itu, kami juga mengirimkan produk Superbram ke warga perantauan Kulonprogo di Jabodetabek melalui Gayeng Regeng Blonjo Bareng,” kata Nur. (inu/pra)

Jogja Raya