RADAR JOGJA – Pagebluk korona menjadi tantangan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Jogja. Butuh usaha ekstra untuk bangkit. Karena situasinya berbeda dengan krisis-krisis sebelumnya. Annisa Batik berhasil menjalankannya. Apa tipsnya?

WINDA ATIKA I.P, JOGJA, Radar Jogja

Mengingat-ingat awal pandemi Covid-19 lalu, hanya membuat pemilik Annisa Batik Haryo Wibowo geleng-geleng. Dia mengenang harus ganti profesi menjadi penjual soto.

Usahanya, Annisa Batik sempat vakum tiga bulan sejak awal pandemi melanda pada 2020 silam. “Awal pandemi sangat menterpurukkan, dampaknya besar sekali semuanya jadi vakum,” kata Pemilik Annisa Batik, Haryo Wibowo kepada Radar Jogja di rumahnya Rabu (19/5).

Haryo menyebut, vakum dari dunia industri perbatikan sejak Maret, April, dan Mei 2020. Hal ini menjadi pukulan berat dan beban mental karena tidak bisa menghidupi sekitar 40 lebih karyawannya yang terdampak dirumahkan. Belum lagi, hampir 100 item baju batik pre order dari konsumen harus ditunda pembayarannya. Akibatnya barang yang siap disetor harus tertahan di gudang. Terlebih, karyawan-karyawannya yang bekerja rata-rata lebih dari 10 tahun ikut dengannya. “Itu sangat menganggu pikiran saya saat itu, tapi saya harus berjuang supaya bisa menghidupi mereka,” ujarnya.

Tuntutan berfikir kreatif dan berinovasi selalu membayangi pikirannya. Sampai akhirnya, usaha yang sudah digeluti 20 tahun silam ini harus mencari peluang besar yang belum pernah diraihnya. Sebab, biasanya produk batik yang diproduksinya hanya disuplai lebih banyak ke toko-toko maupun pengepul. Ternyata, pagebluk korona juga merenggut tempat-tempat yang biasa ia suplai bahkan ada yang sedikit sudah gulung tikar terpaksa tidak bisa mensuplai barang. “Bidikan pasar harus disesuaikan dengan hal-hal yang terdampak sedikit saja dengan Covid-19. Seperti instansi atau kantor-kantor,” jelasnya.

Sampai akhirnya, tiga bulan berselang setelah vakum laki-laki 48 tahun itu mengatur bidikan pasar yang mulai bergeser. Dari semula hanya sedikit menyasar instansi atau kantor-kantor. Dan lebih banyak ke toko-toko dan pengepul, saat itu mencoba menawarkan produk-produk seperti seragam yang menjadi kebutuhan primer untuk bekerja ke instansi pemerintah atau kantor. Ternyata, bisa diterima. Meskipun jumlahnya tidak seperti hari biasanya. Dalam sebulan bisa smpai 2.000 yard lebih. Saat ini untuk menghabiskan 500 yard saja sudah sangat disyukuri. “Sampai sekarang masih saya anggap (ini) dewa penolong banget karena dari situ saya bisa menggeliat bertahan paling tidak bisa memperkerjakan karyawan meskipun dengan jumlah yang sdikit,” terangnya.

Kunci utama lain, juga kreatif untuk memacu semangat belanja masyarakat dengan memberikan promo dan diskon. Dicontohkan promo diskon dimainkan dengan membeli satu gratis satu produk. Sampai diskon produk hingga 25 persen. Sehingga, pelanggan menjadi tertarik. Tidak serta merta meskipun dengan harga diskon tetap kualitas harus tetap ditingkatkan. “Kami nggak dapat untung nggak papa tapi jangan sampai rugi. Alhamdulillah, cukup untuk membantu karyawan kami tetap hidup dan bekerja,” tandasnya.

Titik paling berat ketika terdampak pandemi ialah sempat beralih profesi berbisnis kuliner soto lenthok echo yang juga difasilitasi gratis oleh Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kota Jogja . Ini dilakoninya bersama sang istri saat memasuki bulan ketiga Maret awal-awal vakum bisnis batik. Dengan alasan untuk menambah aktifitas agar tidak hanya diam, dan bisa memutar ekonomi.

Selain itu juga karena tren awal pandemi semua orang berjualan kuliner, juga keduanya itu sangat menyukai dengan kuliner soto. “Karena memang soto makanan faforit kita. Saya biasanya nyari sarapannya itu soto, dari pengalaman akhirnya jualan soto aja,” ujarnya sambil tersenyum.

Peluang bisnis lain pun dijajalnya seperti kuliner jajanan sempol ayam yang dititipkan ke toko-toko. Sempat memproduksi hingga 900 tusuk sempol ayam dalam sehari. “Bukan dinilai rupiahnya tapi aktifitas saya biar nggak stres. Ada kegiatan, pikiran jadi nggak terlalu ketakutan,” ceritanya.

Tetapi, tidak berhenti di situ. Sembari berjualan soto juga mencari solusi pemasaran bersama timnya dengan menawarkan produk-produk batik yang seperti home dekor, fesyen, alat ibadah mukenah batik, sajadah batik, dan lain-lain itu ke pelanggan atau reseller-nya. Setali tiga uang, celah itu dapat diraihnya. “Sebulan berjualan soto, karena mulai menggeliat saya tekuni bisnis batik lagi. Akhirnya berjalan dan melebar ke pelanggan-pelanggan baru,” jabarnya.

Hampir satu setengah tahun usahanya mulai memperlihatkan geliat ekonomi secara perlahan. Ternyata, semua upaya yang dilakoni membuahkan hasil meskipun masih sedikit demi sedikit. Respon dari apa yang ditawarkan ke instansi pemerintah atau kantor-kantor disambut baik. Lambat laun bisa berjalan, sampai saat ini permintaan sudah mulai meningkat 60 persen. Dari sebelumnya hanya nol persen. “Alhamdulillah sekarang bisa jalan dapat keuntungan juga, kita bener-bener meningkat,” ungkapnya.

Dia pun berpesan pada pelaku usaha lainnya. Jangan patah semangat, tingkatkan kreatifitas, tingkatkan bidikan pemasaran. “Termasuk ke pasar yang sebelumnya diabaikan ternyata menjadi peluang besar yang tidak pernah diraih sebelumnya, tapi bisa dicapai sekarang,” imbuhnya yang menyebut biasa menyuplai ke toko-toko batik sepanjang Jalan Malioboro termasuk Hamzah Batik.

Produk batik yang diproduksinya per minggu itu mulai dari nol berupa kain putih, proses membatik, pewarnaan, sampai ke barang produk jadi. Ada 400-500 motif batik cap yang disediakan, pun ada batik tulis kasaran dan halur. Harga produk-produk yang ada beragam mulai dari Rp 30 ribu hingga jutaan tergantung jenis atau item produknya. “Kalau jutaan itu kombinasi dari kain panjang, ada tulis kombinasi ada full tulis. Tapi kalau ini biasanya by order,” katanya. (pra)

Jogja Raya