RADAR JOGJA – Pada 20 Mei 1908 merupakan kelahiran organisasi Boedi Oetomo. Disebut sebagai organisasi modern pertama. Tujuannya untuk melawan penjajah dan memerdekakan Indonesia. Yang diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Kini, 113 tahun setelahnya, Indonesia pun mulai bangkit. Kali ini dari dampak pandemi Covid-19. Pelaku UMKM jadi salah satu pelopornya.

Kemiskidi mengingat-ingat kejadian hampir setahun lampau. Saat awal-awal Covid-19 mulai masuk Indonesia. Saat banyak negara menerapkan lockdown. Warga Indonesia, termasuk DIJ, banyak yang takut keluar rumah. Pria 59 tahun ini, saat itu baru mengembangkan usaha kerajinan batik kayu. Lantaran batik kayu karyanya dapat masuk ke dua toko ritel berjejaring nasional. Kerja sama itu berjalan baik selama tiga tahun. Kemis lalu diminta untuk menyetor produk ke semua toko cabang ritel berjejaring nasional itu. “Sehingga kami berani meminjam kredit usaha rakyat (KUR) dari bank. Perhitungan kami, kalau satu bulan diangsur Rp 5 juta sampai Rp 10 juta, kami nggak terlalu berat,” beber ayah lima orang anak itu kepada Radar Jogja Rabu (19/5).

Perajin di Padukuhan Krebet, Sendangsari, Pajangan, Bantul sedang mengejar target agar pesanan 35 ribu buah labu yang akan dikirim ke Amerika dapat dipenuhi (19/5).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Tapi, angan pria yang juga menjabat sebagai Dukuh Krebet, Sendangsari, Pajangan, Bantul ini pun pupus. Dalam sekejap semua berubah, setelah pandemi Covid-19 menerjang sekitar Maret 2020. Bukan dapat mengembangkan sayap, Kemis justru diminta untuk menarik semua barangnya. “Nah, saat pandemi semua barang yang dititipkan itu suruh membawa pulang semua,” ungkapnya.

Selain itu, toko-toko rekanan Kemis pun menghentikan permintaan. Sebab para pemilik toko memilih untuk menutup toko. Ada pun yang buka, hanya mendapat sedikit kunjungan tamu. Ini kemudian berimbas pada penghasilan perajin. Tidak ada permintaan dan penjualan, perajin di Krebet lantas banyak yang alih profesi. “Dari sekitar 40 titik kelompok perajin, yang mampu bertahan hanya lima. Salah satunya saya,” sebutnya.

Bagi Kemis, ini bukan sebuah kebanggan. Untuk dapat bertahan, Kemis harus merelakan asetnya dijual. Sebab KUR yang diambilnya sebelum pandemi Covid-19 tetap harus dibayar. Selain itu, perajin yang dipekerjakannya pun butuh dibayar. “Saya bisa membeli aset dari kerajinan, jadi ya nggak papa saya jual aset untuk kembali menghidupi kerajinan,” cetusnya. “Karena kalau tidak ada yang bertahan, untuk bangkit kembali butuh waktu yang lama.”

Selain menjual aset, Kemis pun mulai membidik pasar lokal untuk tetap bertahan. Dia mengubah barang kerajinan menjadi barang fungsional biasa tanpa bubuhan batik pada kayu. Sehingga harga jual barang tersebut menjadi lebih murah. “Kami membuat barang fungsional yang dulu, dibatik. Sekarang nggak usah dibatik yang penting fungsi sama, barangnya sama. Tidak dibatik jadi mengurangi biaya. Jadi harga bisa berkurang,” bebernya.

Kemis juga menggeliatkan jejaring yang dimilikinya. Mulai menerobos trading, menghubungi rekanan pengusaha kerajinan lain, eksportir, dan pemilik galeri. Hal ini berhasil membuatnya kembali mendapat pesanan dalam jumlah banyak. Tidak main-main, sekali pesanan masuk, Kemis mendapat order 35 ribu hiasan labu. Dipesan oleh buyer asal Amerika Serikat guna perayaan Halloween. Selain itu, Kemis juga mendapat order membuat hiasan kayu berbentuk hewan dengan bubuhan batik.

Dia menyebut, total pesanan untuk labu sekitar Rp 1,5 miliar. “Untuk jumlah sebanyak 35 ribu buah, sebenarnya harga segitu mepet. Tapi ini cukup memberikan harapan bagi perajin,” ujarnya. Bagaimana tidak, Kemis tidak hanya mengerahkan warga kampungnya untuk memenuhi pesanan. Tapi dia sampai dibantu oleh perajin dari Gunungkidul, juga dari luar DIJ, seperti Klaten, Sukoharjo, Magetan, dan Jepara. (fat/pra)

Jogja Raya