RADAR JOGJA – Kotagede identik dengan banyak hal. Saat ini dikenal sebagai sentra kerajinan perak di Jogja. Dulu, Kotagede juga sempat menyandang status sebagai ibu kota Kerajaan Mataram Islam. Rupanya, wilayah yang kini jadi salah satu kemantren (kecamatan, Red) dari Kota Jogja itu punya banyak cerita lain, salah satunya soal sepak bola.

HERY KURNIAWAN, Jogja, Radar Jogja

Jika berbicara soal sepak bola di suatu wilayah, tentu tak bisa dilepaskan dari keberadaan lapangan sepak bola di wilayah itu. Begitu juga di Kotagede. Di sana ada lapangan sepak bola legendaris yang dinamakan Lapangan Karang.

Lapangan yang segera direvitalisasi menjadi stadion mini dalam beberapa bulan ke depan itu, melahirkan banyak sosok penting. Sebagian dari mereka bahkan bisa menembus hingga level nasional. Baik sebagai pemain maupun wasit.
Sebut saja legenda PSIM Jogja Siswadi Gancis. Juga ada eks wasit FIFA Siswanto. Hingga wasit nasional yang hingga kini masih aktif yakni Cholid Dalyanto.

Siswanto menceritakan, dulu di Kotagede sebenarnya terdapat tiga lapangan. Selain Lapangan Karang, ada Lapangan Jambon dan Lapangan Winong. “Tapi dua-duanya kini sudah lenyap, sekarang jadi perumahan,” kata Siswanto.
Di Lapangan Karang, Siswanto yang sempat berkarier sebagai pemain di PSIM itu paham betul proses awal pembinaan sepak bola Kotagede. Termasuk tim-tim legendaris yang sempat menggunakan lapangan itu seperti Angkatan Muda, Barata, Sekar Mas, hingga Perseja Jambon.

Dalam kesempatan yang sama, Cholid Dalyanto juga bercerita mengenai latar belakangnya sebagai sosok yang sejak lama hidup dari sepak bola. Sebelum menjadi wasit seperti saat ini, ia juga sempat masuk sebagai salah satu skuad PSIM di awal tahun 2000-an.

Ayah dari Cholid sendiri juga merupakan mantan pemain sepak bola. Namun kariernya hanya mentok sampai di Angkatan Muda saja. “Ngga sampai di PSIM,” ujarnya.

Ada satu lokasi lain di Kotagede yang memiliki cerita sangat menarik. Lokasi yang dimaksud adalah sebuah pemakaman di salah satu sudut wilayah itu. Di kompleks pemakaman yang terletak di antara gang sempit itu, rupanya terbaring dua sosok penting dalam perjalanan PSIM dan juga sepak bola nasional.

Di tempat itu ada makam Abdul Hamid yang merupakan salah satu pendiri PSSI. Hamid kala itu mewakili Persatuan Sepakraga Mataram (PSM), sebuah klub yang di kemudian hari berubah nama menjadi PSIM Jogja.
Selain itu ada pula makam Djamiat Dahlar, mantan pemain legendaris PSIM Jogja dan tim nasional Indonesia. Djamiat adalah salah satu dari sedikit pemain yang sempat merasakan polesan tangan dingin Antun ‘Toni’ Pogačnik.

Mengunjungi Lapangan Karang, kediaman Cholid Dalyanto serta makam itu merupakan bagian dari tur wisata yang diinisiasi Komunitas Bawahskor. Mereka berkolaborasi dengan PSIM Legend. Tur wisata ini diberi tajuk Tur Titik Putih 1.1. Pegiat arsip sepak bola Jogja Dimas Maulana bertindak sebagai pemandu tur.

Dimas menyatakan, ini sebenarnya bukan kali pertama tur mengelilingi suatu wilayah di Kota Jogja dan bercerita soal sepak bola. Dahulu juga sempat melakukan hal yang sama di Stadion Kridosono. “Tujuannya untuk mengenalkan sisi-sisi lain PSIM yang belum banyak terungkap ke publik, terutama merawat sejarah PSIM,” jelasnya. (laz)

Jogja Raya