RADAR JOGJA – Pemprov DIJ tengah mengantisipasi kedatangan para warga negara asing (WNA) dan pekerja migran Indonesia (PMI) yang akan masuk ke Jogjakarta. Tepatnya melalui pintu kedatangan internasional Yogyakarta International Airport (YIA). Langkah ini sebagai antisipasi sebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

Dalam kesempatan ini Pemprov DIJ turut menggandeng sejumlah hotel di Jogjakarta. Perannya sebagai lokasi karantina maupun isolasi bagi WNA maupun PMI. Selama kurun waktu inkubasi atau minimal 5 hari.

“Kami memang menyediakan hotel untuk mereka yang melakukan penerbangan langsung dari luar negeri ke Jogjakarta lewat bandara YIA. Nanti langsung isolasi 5 hari sebelum melanjutkan aktivitasnya,” jelas Sekprov Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji ditemui di Kompleks Kantor Kepatihan Pemprov DIJ, Senin (17/5).

Kebijakan ini merupakan hasil kajian secara matang. Setidaknya dalam rentang waktu inkubasi dapat mengetahui kondisi kesehatan para WNA dan PMI. Agar tidak langsung berinteraksi dengan masyarakat luas.

Terkait biaya, merupakan tanggungjawab masing-masing personal. Artinya para WNA dan PMI membayar secara mandiri biaya hotel. Terhitung sejak awal menginap hingga rampung menjalani karantina.

“Jadi semuanya, harus 5 hari atas biaya sendiri. Termasuk tes PCR setibanya di Jogjakarta. Walau positif (Covid-19) tetap biaya sendiri, kecuali untuk biaya setelah di rumah sakit,” katanya.

Terkait mekanisme kesehatan, Aji memastikan hotel telah bekerjasama dengan laboratorium kesehatan. Termasuk dengan Dinas Kesehatan wilayah. Tujuannya untuk memastikan standar kelayakan pelayanan kesehatan selama karantina.

Karantina kepada WNA dan PMI bersifat wajib. Termasuk apabila hasil uji tes PCR negatif Covid-19. Perhitungan yang digunakan adalah batas mininaml masa inkubasi virus.

“Untuk PCR nanti di RSUD Wates. Kalau negatif masuk hotel, kalau positif masuk rumah sakit. Selepas 5 hari masih ada tes PCR lagi. Kalau negatif baru boleh pulang atau lanjut perjalanan,” ujarnya.

Ketua DPD Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) DIJ Deddy Pranowo Eryono menuturkan ada 16 hotel yang berpartisipasi dalam program ini. Seluruhnya telah memiliki sertifikasi Cleanliness, Health, Safety and Environment Sustainability (CHSE). Seluruh hotel tersebar di hampir di semua kabupaten dan kota di Jogjakarta.

Walau begitu, pihaknya tetap berkoordinasi dengan Pemprov DIJ. Ini karena fasilitas karantina tidak bisa asal. Tetap ada standar baku atas penanganan Covid-19.

“Tidak semua kamar untuk fasilitas karantina. Sistemnya itu blok, pasti disendirikan. Lalu tidak boleh pakai fasilitas hotel seperti kolam renang, gym dan lainnya.

Mereka juga tidak boleh meninggalkan hotel seenaknya,” katanya.
Kolaborasi program ini setidaknya dapat menjadi angin segar. Terutama terhadap tingkat hunian di perhotelan. Diketahui bahwa tingkat okupansi di Jogjakarta menurun drastis selama pandemi Covid-19.

“Kami berharap momen ini bisa mendongkrak okupansi hotel. Kemarin berharap di libur lebaran ternyata juga sepi. Setidaknya momen ini bisa mendongkrak,” ujarnya. (dwi/sky)

Jogja Raya