RADAR JOGJA – Chamois merupakan salah satu varian dari ayam poland atau ayam jambul. Disebut ayam jambul karena di bagian kepalanya terdapat jambul yang membahana. Selain bentuk yang unik, chamois memiliki perpaduan warna yang cantik. Yakni oranye dan putih di bagian lehernya.

Beragam nama disematkan untuk ayam hias ini. Mulai dari ayam mahkota hingga ayam gondrong, karena bulu-bulu di kepala yang menjadi ciri khasnya. Bahkan, bulu-bulu lebatnya itu sampai menutupi bagian mata.

Dibanding varian ayam poland lainnya, chamois tergolong varian baru yang masuk di Indonesia. Sehingga penyebarannya pun belum terlalu banyak. Syafruddin Prawiranegara, pembudidaya ayam hias asal Jogjakarta menjelaskan, chamois mulai masuk di tanah air sekitar dua sampai tiga tahun belakangan.

“Sudah mulai dikembangbiakkan tapi belum terlalu banyak. Indukan chamois saya ambil dari peternak Thailand,” kata pria yang akrab disapa Udin itu kepada Radar Jogja, Jumat (30/4).

Yang membedakan chamois dari varian ayam poland lainnya yakni terletak pada bulunya. Sebab, chamois memiliki pola bulu yang lebih rapi ketimbang varian lain. Juga tergolong ayam hias yang lincah dan jinak. “Jadi ayam poland biasa itu bulunya nggak ada batikan-nya. Tapi kalau chamois ada batikan dan coraknya bagus,” ujar Udin.

Secara fisik, chamois memiliki tubuh yang cenderung lebih kecil dibandingkan ayam lokal. Di pasaran, harga ayam hias ini juga terbilang cukup bagus. Satu chamois bisa dibanderol hingga jutaan rupiah. Malah, di masa pandemi seperti saat ini, persentase penjualan tetap stabil. “Kalau omzet fluktuatif. Naik turun. Tapi saat pandemi selama setahun ini Alhamdulillah cenderung naik,” paparnya.

Bisnis ayam hias milik Udin sudah dirintis sejak delapan tahun silam. Awalnya hobi. Kini pria 32 tahun itu menjadi salah satu breeder ayam hias sukses di Jogjakarta. Selain chamois, ada beberapa jenis ayam hias yang dikembangbiakkan di rumahnya di Jln. Nitikan, Gang Srikandi No.4, Sorosutan, Umbulharjo. Antara lain, chabo, golden pheasant, lady amherst pheasant, yellow pheasant, merak india dan lain-lain.

Lantas, bagaimana perawatan ayam hias yang berasal dari kawasan Eropa Timur itu? Udin mengatakan, perawatan chamois tak terlalu ribet. Namun, memang perlu keuletan dalam menjaga kebersihan kandang sekaligus pemenuhan kebutuhan pakan.

“Asal dikasih makan kering, kalau basah jambulnya jadi gimbal. Pakannya sama seperti ayam biasa. Tempatnya yang penting kena matahari terus lantai kandangnya harus kering,” terang Udin.

Udin mencatat, satu indukan chamois miliknya bisa bertelur 8-12 butir. Ketika bertelur, ayam jenis poland kebanyakan tidak mau mengerami telurnya. Sehingga perlu ditetaskan melalui mesin penetas. “Telurnya diambil dan dimasukkan ke mesin tetas. Sekitar 1-2 minggu chamois bisa nelur lagi. Sekali yang hidup 65 persen dari telur yang dihasilkan,” ungkapnya. (ard/bah)

Jogja Raya