RADAR JOGJA – Dua tahun berlalu, penyelenggaran garebeg Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat tetap berlangsung sederhana. Kondisi pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) membuat upacara adat ini tidak berlangsung secara terbuka. Dari yang biasanya membagikan gunungan hasil bumi menjadi ribuan rengginang.

Seperti yang terlihat dalam penyelenggaraan garebeg Syawal tahun ini. Tidak ada gunungan hasil bumi yang dibagikan ke Masjid Gedhe Kauman, Kadipaten Pakualaman dan Kantor Kepatihan Pemprov DIJ. Semuanya telah berganti menjadi rengginang yang tertata dalam tusuk bambu.

“Dengan adanya pandemi Covid-19, harus tetap melaksanakan apa yang menjadi kebijakan pemerintah dan Gubernur DIJ sehingga yang biasanya garebeg menggunakan gunungan diganti dengan rengginang,” jelas Wakil Penghageng Tepas Parentah Hageng Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat KPH Yudahadiningrat ditemui di Keben Keraton, Kamis (13/5).

Dalam kondisi normal, gunungan garebeg dibagikan di tiga wilayah tersebut. Sebagai wujud pemberian atau udhik – udhik dari Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10 kepada rakyatnya. Berupa hasil bumi yang ditata dalam wujud gunungan.

Setelah dibagikan, gunungan kemudian dirayah oleh warga yang hadir. Terutama untuk gunungan garebeg di halaman Masjid Gedhe Kauman dan Kadipaten Pakualaman. Tentunya setelah diterima oleh Penghageng wilayah seyempat.

“Sekarang upacara hanya diadakan di dalam cepuri keraton, tapi tetap kirim ke Pakulaman dan Kepatihan. Sedangkan di masjid Gedhe Kauman tidak ada karena menghindari kerumunan,” katanya.

Ribuan tusuk rengginang, lanjutnya, hanya dibagikan kepada para abdi dalem Keraton. Selain itu juga ke Penghageng dan abdi dalem Kadipaten Pakualaman. Sementara di Kepatihan diperuntukkan ke para pejabat Pemprov DIJ.

“Semua abdi dalam keraton ada 3000 orang, jadi tentu yang dibagikan untuk seluruh abdi dalem Keraton ya sekitar segitu. Berupa ubo rampe hasil bumi dalam wujud rengginang yang dirangkai seperti bunga, inilah wujud daripada istilah sedekah raja,” ujarnya.

Yudahadiningrat memastikan rengginang tidak mengurangi esensi garebeg. Ini karena prosesi tetap berlangsung sama. Diawali dengan pembuatan, lalu didoakan untuk kemudian dibagikan.

“Yang penting doa, bahwa sebelum dimulai upacara para abdi dalem kajidan kyai mendoakan itu. Mohon bimbingan kepada Allah SWT agar keraton diberikan kesejahteraan, keamanan danĀ  guyub rukun,” katanya.

Selain garebeg gunungan, Keraton juga meniadakan upacara ngabekten. Kebijakan ini sebagai upaya antisipasi munculnya kasus Covid-19 di dalam benteng keraton. Terlebih upacara adat ini memang mengumpulkan banyak orang.

Ngabekten sendiri adalah upacara sungkeman yang berlangsung di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Berupa silaturahmi kepada Sri Sultan Hamengku Bawono ka 10. Selain diikuti putri dan kerabat dalem juga para abdi dalem.

“Tahun lalu juga sama, karena juga sudah kondisi pandemi. Ngabekten sudah 2 kali ditiadakan karena kalau ngabekten nanti ada kerumunan, sehingga ditiadakan,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya