RADAR JOGJA- Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat  memastikan pada momentum Idul Fitri 1442 H tahun ini, sejumlah tradisi-adat istiadat masih terpaksa ditiadakan karena situasi penularan Covid-19 yang belum mereda.

Salah satunya yang terdekat tradisi Grebeg atau Garebeg Syawal, yang biasanya digelar Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di kawasan Alun-Alun Utara hingga Masjid Gedhe Kauman.

“Guna mendukung anjuran pemerintah untuk meminimalisir penyebaran COVID-19 di DIJ, rangkaian peringatan Idulfitri 1442 H yakni Hajad Dalem Garebeg Syawal yang sejatinya digelar Kamis (13 Mei)  serta Hajad Dalem Ngabekten akan ditiadakan,” kata Penghageng Kawedanan Hageng Panitrapura (KHP) Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gusti Kanjeng Ratu Condrokirono Selasa (11/5).

Sebelum pandemi, jelang siang usai pelaksanaan salat ied, ribuan warga dan wisatawan biasanya berkumpul di area depan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk menyaksikan iring-iringan tujuh gunungan yang akan dikirim

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ke berbagai tempat. Gunungan simbol sedekah raja berupa hasil bumi itu kemudian diperebutkan masyarakat karena dipercaya membawa berkah.

GKR Condrokirono mengatakan meski Grebeg Syawal tahun ini ditiadakan seperti tahun lalu, keraton akan tetap melakukan penyesuaian prosesi. Dalam bentuk pembagian rengginang secara terbatas untuk kalangan internal keraton saat momen itu.

“Rengginang ini juga akan dibagikan ke dua tempat yang berbeda sebagaimana Garebeg pada umumnya, yakni Puro Pakualaman dan Kepatihan,” ujarnya.

Putri kedua Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono X menambahkan walaupun arak-arakan gunungan dan prajurit pada Garebeg Syawal tidak diselenggarakan, makna Garebeg itu sendiri tidaklah hilang.

“Meski tidak ada prosesi arak-arakan prajurit dan gunungan, Garebeg tetap tidak kehilangan esensinya, yakni perwujudan rasa syukur dari raja atas melimpahnya hasil bumi, yang dibagikan untuk rakyatnya,”jelasnya.

Pada agenda ini juga akan digelar pentas musik persembahan Abdi Dalem Musikan KHP Kridhomardowo, sebagaimana jamuan kenegaraan keraton zaman dahulu yang diiringi irama Korps Musikan.

Selama pandemi, produksi konten budaya terus menerus dilakukan dan disiarkan secara daring.

Beberapa diantaranya adalah Pentas Musikan 6 Jam di Jogja memperingati Serangan Umum 1 Maret, Webinar Peringatan Hari Kartini: Relevansi Emansipasi Kartini Hingga Saat Ini, Uyon-uyon Hadiluhung, dan Pentas Wayang Wong Lakon Pandawa Mahabhiseka.

Selain bertujuan sebagai sarana edukasi virtual mengenai keraton, konten tersebut diharapkan dapat menjadi referensi kegiatan dan sajian budaya yang dapat dinikmati masyarakat sembari tetap berada di rumah. “Semuanya disiarkan secara daring dan dapat disaksikan melalui kanal Youtube Kraton Jogja,” ujarnya. (sky)

Jogja Raya