RADAR JOGJA – Jogja Police Watch (JPW) kembali mendesak penyidik Polres Bantul agar mendalami peran Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Pol Y. Tomi Astanto dalam pusaran kasus sate sianida. Sebab, dalam perkembangannya terungkap Tomi punya hubungan khusus dengan tersangka Nani Apriliani Nurjaman.

Tomi yang sehari-hari bertugas di Polresta Jogja diketahui merupakan suami siri dari Nani. Ini diketahui dari keterangan pengurus RT dan Dusun Cepokojajar, Sitimulyo, Piyungan, Bantul. Sejak setahun lalu Tomi membeli sebuah rumah di dusun tersebut. Rumah itu ditempati pasangan Tomi dan Nani alias Tika. Kepada pengurus kampung, keduanya mengaku sebagai pasangan suami istri.“Dari fakta ini, peran Tomi dalam pusaran kasus sate sianida tidak bisa dikesampingkan. Dia harus diperiksa untuk dimintai keterangan. Polisi tidak boleh mengabaikannya,” desak Kepala Divisi Humas Jogja Police Watch (JPW) Baharuddin M. Kamba Rabu (5/5).

JPW menilai munculnya kasus sate sianida itu tidak bisa dilepaskan dari sosok Tomi. Beberapa kali memberikan keterangan ke publik, jajaran Polres Bantul maupun Polda DIJ selalu mengatakan motif tersangka melakukan tindakan itu karena sakit hati dengan Tomi. Alasannya, bintara tinggi Polri itu menikah dengan perempuan lain. Padahal sebelumnya Tomi berdasarkan keterangan tersangka yang disampaikan polisi berjanji akan menikahi.

Dari penjelasan itu, JPW melihat ada keganjilan. Patut diduga sebelum kenal dengan tersangka, Tomi telah memiliki istri sah. Artinya, saat Tomi menjalin hubungan dengan tersangka sesungguhnya dia telah berkeluarga. “Hubungan inilah yang harus didalami. Apakah benar yang menjadi target operasi (TO) sate sianida itu Tomi atau istri sahnya. Polisi harus menelusurinya,” pinta aktivis yang memulai karir sebagai penggiat di Indonesia Court Monitoring (ICM) atau semacam lembaga pemantau peradilan.

Kamba sejak awal heran dengan pernyataan Direktur Reskrim Umum Polda DIJ Kombes Pol Burkan Rudy Satria yang terkesan tidak terbuka dengan identitas Tomi. Profesinya sebagai penyidik senior di Polresta Jogja tidak diungkap secara gamblang. Pekerjaan Tomi disamarkan dengan disebut sebagai Aparatur Sipil Negara. “Pertanyaan saya terjawab oleh Kapolresta Jogja. Aiptu Pol Y. Tomi Astanto diakui merupakan penyidik yang bertugas di jajarannya,” ujar Kamba, sapaan akrabnya.

Selain profesi Tomi yang terkesan ditutup-tutupi, JPW juga menyinggung tidak tercantumnya Tomi beserta istrinya dalam daftar nama saksi. Tomi dan istrinya sahnya tinggal di Perum Villa Bukit Asri Bangunjiwo, Kasihan Bantul. “Ini sebuah kejanggalan sekaligus tanda tanya besar. Tomi dan istrinya sangat terkait erat dengan peristiwa ini,” katanya.

Dikatakan, kalau Polres Bantul dan Polda DIJ merasa ada ewuh pakewuh harus memeriksa Tomi yang disebut sebagai penyidik senior berkinerja baik, JPW meminta agar penanganan perkara sate sianida ini diambil alih Mabes Polri.

Langkah ini demi meminimalisasi adanya konflik kepentingan dalam penyidikan perkara tersebut. Apalagi diketahui beberapa anggota Polres Bantul yang ikut menangani perkara itu diketahui ada yang teman satu angkatan Tomi semasa masuk sebagai bintara Polri. “Setidaknya Mabes Polri mengadakan supervisi agar proses penyidikan berjalan lurus dan proses penegakan hukum berjalan fair,” ungkap dia.

JPW juga menyoroti informasi soal nikah siri Tomi dengan Nani. Dia minta Divisi Propam atau Bidang Propam Polda DIJ mengambil langkah-langkah terkait hal itu. Sesuai dengan peraturan Kapolri, anggota Polri dilarang berpoligami. Termasuk memiliki istri di luar nikah. “Apakah ini merupakan pelanggaran kode etik dan profesi, harus diusut tuntas,” desaknya lagi.(kus/pra)

Jogja Raya