RADAR JOGJA- Di media sosial Instagram dan Facebook beredar foto tersangka pengirim sate beracun, Nani Aprilliani Nurjaman alias Tika saat berada di sel tahanan Mapolsek Bantul mengenakan daster seksi berwarna kuning dengan motif bunga-bunga. Daster yang dikenakan Nani tidak berlengan dan tingginya di atas lutut.

Kapolsek Bantul Kompol B Ayom menuturkan sumber foto Nani Aprilliani yang viral tersebut. Dia mengakui foto Nani tersebut diambil oleh anggotanya.

Hal itu untuk menunjukkan kepada keluarga Nani agar mengirimi pakaian yang layak selama di tahanan. “Itu kan sebenarnya anggota itu memfoto hari Sabtu (1/5), kemudian fotonya kan pakaiannya seperti dikasih tahu anggota jangan pakaian seperti itu. Terus tanya siapa keluarga yang bisa dihubungi biar diganti pakaiannya,” jelasnya.

Ayom menambahkan, setelah mendapatkan nomor keluarga Nani, dan menghubunginya ternyata tidak ada yang bisa mengirimkan pakaian untuk tersangka sate sianida beracun itu.

Untuk itu, anggota tersebut mengambil foto lagi sebagai bukti bahwa Nani berpakaian daster karena belum mendapat kiriman pakaian.

“Setelah minta nomor dan dihubungi anggota saya tidak bisa semuanya, terangnya.

Lalu anggota tersebut menjawab ada, kemudian istrinya meminta agar mengirimkan foto Nani di dalam sel dengan mengenakan daster ke ponselnya. Hal itu berlanjut dengan pengiriman foto ke istri anggota tersebut. “Oh ini orangnya, kata anggota dan kemudian fotonya disuruh share istrinya,” katanya.

Selanjutnya, istri anggota itu menjadikan foto Nani sebagai status di aplikasi WhatsApp. Karena menjadi status WhatsApp lalu banyak rekan istrinya yang mendownload gambar tersebut.

Terkait langkah yang diambil untuk anggotanya itu, Ayom mengaku telah memanggilnya dan memberikan teguran. Sehingga diharapkan kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.

“Oh iya, kita laksanakan mintain informasi dan kita kasih teguran karena itu tidak boleh,” jelasnya.

Jogja Police Watch (JPW) menganggap ada unsur kesengajaan yang dilakukan oleh oknum polisi beserta istrinya. “Pertama, karena anggota Polsek Bantul itu dengan sadar mengambil foto tersangka NA sebanyak dua kali tanpa hak meskipun alasannya bahwa tersangka NA berpakaian daster dan belum mendapatkan pakaian dari pihak keluarga tersangka NA,” ujar Kadiv Humas JPW, Baharuddin Kamba, Rabu (5/5).

“Kedua, secara sadar istri dari anggota Polsek Bantul tersebut menjadikan foto tersangka NA di dalam sel ke status whatsapp dan viral di media sosial. Padahal status whatsapp yang kita miliki dapat dilihat maupun dishare ke orang lain,” katanya.

Kamba menyebutkan, hak orang yang ditahan dan bagaimana seharusnya polisi memberlakukan tersangka diatur dalam Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2009 tentang Implementasi Prinsip dan Standar Hak Asasi Manusia dalam Penyelenggaraan Tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Perkapolri 8/2009).

Selain yang diatur pasal 57, pasal 58, pasal 59, pasal 60, pasal 61, pasap 62 dan pasal 63 pada Undang -undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

Salah satu tujuan Perkapolri 8/2009 ini adalah untuk menjamin pemahaman prinsip dasar HAM oleh seluruh jajaran Polri agar dalam melaksanakan tugasnya senantiasa memperhatikan prinsip-prinsip HAM.

Pada pasal 22 ayat (3) Perkapolri 8/2009 yang mengatakan bahwa tahanan yang pada dasarnya telah dirampas kemerdekaannya harus tetap diperlakukan sebagai orang yang tidak bersalah sebelum ada putusan hukum yang berkekuatan tetap atau inkracht.

“JPW mendorong Propam Polda DIJ untuk melakukan pemeriksaan adanya dugaan pelanggaran kode etik terhadap anggota Polsek Bantul beserta istrinya terkait foto tersangka NA yang berada di dalam sel tahanan dan sempat viral di media sosial,” tegasnya. (sky)

Jogja Raya