RADAR JOGJA – Target awal kiriman sate sianida Aiptu Tomy dengan tersangka Nani Aprilliani Nurjaman alias Tika ternyata adalah suami istri siri. Hal itu diungkap Agus Riyanto, ketua RT 03 Padukuhan Cepokojajar, Srimulyo, Piyungan, Bantul. Bahkan orang tua Nani, menelpon Agus untuk menitipkan putrinya.

“Tinggal di sini kurang lebih sudah satu tahun. Nani itu kan istri siri Tomy,” cetus Agus saat ditemui wartawan di rumahnya Selasa (4/5). Saat akan tinggal di lingkungannya, Nani dan Aiptu Tomy menemui Agus. Saat itulah mereka mengaku sebagai suami istri siri.

Kendati begitu, Agus tidak meminta bukti pernikahan siri. “Bukti ndak ada, hanya fotokopi KTP,” sebutnya. Untuk menyakinkan, Agus pun sempat berbicara dengan ibunya Nani. “Ibunya bilang sudah nikah secara agama,” beber Agus.

Dengan begitu, Agus mengizinkan Aiptu Tomy dan Nani tinggal bersama di wilayahnya. Terlebih, dari fotokopi KTP diketahui Aiptu Tomy adalah anggota kepolisian. Agus pun lantas menyanggupi permintaan ibunya Nani untuk dititipi Nani. “Saya jawab, oh ya bu insya Allah siap,” ujarnya.

Atas penangkapan Nani, Agus merasa sangsi. Lantaran ayah tiga orang anak ini menilai Nani sebagai sosok yang lugu. Bahkan Agus berencana untuk menjenguk Nani. “Saya itu pengen ngaruhke, orang tuanya saja menelepon saya. Baik-baik minta tolong suruh menjaga anaknya,” ujarnya, dengan suara agak bergetar.

Sebelumnya, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Kombes Pol Burkan Rudy Satria menutupi hubungan Aiptu Tomy dan Nani. Selain itu, dia menampik kemungkinan adanya cinta segiempat, antara Aiptu Tomy, Nani, istri Aiptu Tomy, dan R, orang dikatakan mencintai Nani dan menyuruh membuat pelajaran ke Aiptu Tomy.

Dia hanya mengungkap Aiptu Tomy berhubungan dengan Nani sebelum menikahi istri resminya. Namun Kombes Burkan enggan menuturkan lebih jauh hubungan antara Aiptu Tomy dengan karyawan salon itu.

“Yang perlu diperhatikan korbannya anak-anak, bukan ininya (hubungan khusus Aiptu Tomy dan Nani, Red). Dia (Aiptu Tomy, Red) bukan korban, jadi mengapa harus kita permasalahkan. Intinya, kita mengungkap kasus pembunuhan, cari saja korbannya siapa,” elaknya.

Perwira menengah ini hanya menjelaskan rentetan kejadian Nani memberi order kepada seorang ojek online (ojol) bernama Bandiman. Di mana Nani berdalih tidak memiliki aplikasi ojol, sehingga meminta Bandiman mengantar paket takjil secara offline. Target paket itu adalah Aiptu Tomy yang beralamat di Villa Bukit Asri, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Kemudian berpesan, bila ditanya, paket dari Hamid Pakualaman.

Sampainya di rumah Aiptu Tomy, paket yang diantar Bandiman justru ditolak. Lantaran ia sedang berada di luar kota. Selain itu Tomy dan istrinya tidak mengenal Hamid dari Pakualaman. Mereka pun tidak memesan paket takjil. “Makanan yang dikirim ojol gagal diterima. Dibawa pulang ke rumah oleh Bandiman dan menyebabkan meninggal anaknya,” sebutnya.

Hasil uji laboratorium terhadap sisa paket takjil berupa sate ayam yang dimakan oleh anak kedua Bandiman, Naba Fais Prasetya, mengandung Kalium Sianida (KCN). Sehingga anak 10 tahun tahun itu meregang nyawa sesaat usai makan sate dan minum air akibat merasakan rasa pedas, panas, dan pahit.

Akibat perbuatannya ini, Nani terjerat Pasal 340 KUHP Sub 338 KUHP Sub Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76C UU RI No 35/2014 tentang perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, Pasal 340 KUHP dan Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76C UU RI No 35/2014 tentang Perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancaman bisa seumur hidup, hukuman mati, atau paling lama 20 tahun penjara. Untuk saat ini, tersangka kami tahan di Polres Bantul,” sebutnya. (fat/laz)

Jogja Raya