RADAR JOGJA – Perempuan misterius dalam kasus sate sianida akhirnya terungkap. Dia adalah Nani Aprilliani Nurjaman alias Tika. Saat ini, perempuan 25 tahun itu telah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Namun, tidak tertutup kemungkinan jumlah pelaku bertambah.

“Kami masih melakukan pendalaman. Semua kemungkinan bisa,” sebut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIJ Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) Burkan Rudy Satria dalam jumpa pers di Mapolres Bantul, Senin (3/5).

Kepolisian terus melakukan pendalaman. Selain itu, polisi terus menelaah keterangan yang diberikan Nani. “Ini orangnya (Nani, Red) tidak semudah yang kita bayangkan. Masih membutuhkan proses pendalaman yang cukup panjang. Ini orangnya introvert banget,” cetusnya.

Untuk itu kepolisian belum menyimpulkan target sesungguhnya dalam kasus sate sianida adalah Aiptu Tomy. Lantaran kepolisian menduga, anggota keluarga Tomy pun bisa saja menjadi target. “Ini belum terungkap semua dengan jelas, kan keterangan dari tersangka mbulet,” beber mantan Kapolres Sleman ini.

Dalam rilis resmi kepolisian menekankan kronologi penangkapan Nani. Berawal dari perempuan yang berprofesi sebagai pegawai salon itu sakit hati terhadap Aiptu Tomy. Lantaran anggota Satreskrim Polresta Jogja itu tidak menikahinya. “Motif sakit hati, ternyata si target menikah dengan orang lain. Bukan dengan dirinya,” bebernya.

Selain itu diungkap bahwa Aiptu Tomy berhubungan dengan Nani sebelum menikahi istrinya. Namun perwira menengah ini enggan menuturkan lebih jauh hubungan antara Aiptu Tomy dan perempuan asli Majalengka, Jawa Barat, tapi tinggal di Potorono, Banguntapan, Bantul, itu.

“Yang perlu diperhatikan korbannya anak-anak, bukan ininya (hubungan khusus Aiptu Tomy dan Nani, Red). Aiptu Tomy bukan korban, jadi mengapa harus kita permasalahkan. Intinya, kita mengungkap kasus pembunuhan, cari saja korbannya siapa,” elaknya.

Direskrimum tidak menampik jika Aiptu Tomy adalah aparat kepolisian. Namun dia juga tidak menyebut secara gamblang. “Profesinya (Aiptu Tomy, Red) pegawai negeri,” cetusnya. Selain itu, dia menampik kemungkinan adanya cinta segitiga antara Aiptu Tomy, Nani, dan istri Aiptu Tomy.

Selanjutnya Burkan kembali menjelaskan rentetan kejadian Nani memberi order kepada seorang ojek online (ojol) bernama Bandiman. Di mana Nani berdalih tidak memiliki aplikasi ojol, sehingga meminta Bandiman mengantar paket takjil secara offline. Target paket itu adalah Tomy yang beralamat di Villa Bukit Asri, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Kemudian berpesan, bila ditanya, paket dari Hamid (di) Pakualaman.

Sesampainya di rumah Tomy, paket yang diantar oleh Bandiman justru ditolak. Lantaran dia sedang berada di luar kota. Selain itu, dia dan istrinya juga tidak mengenal Hamid dari Pakualaman. Mereka pun tidak memesan paket takjil. “Makanan yang dikirim ojol gagal diterima. Dibawa pulang ke rumah (oleh Bandiman, Red) dan menyebabkan anaknya meninggal dunia,” sebutnya.

Hasil uji laboratorium terhadap sisa paket takjil berupa sate ayam yang dimakan oleh anak kedua Bandiman, Naba Fais Prasetya, mengandung Kalium Sianida (KCN). Sehingga anak sembilan tahun itu meregang nyawa sesaat usai makan sate dan minum air akibat merasakan rasa pedas, panas, dan pahit.

“Pengungkapan ini merupakan kerja sama yang bagus dari masyarakat yang bagus dalam memberikan kesaksian, polsek, polres, polda,” ucapnya.

Akibat perbuatannya ini, Nani dijerat dengan Pasal 340 KUHP Sub 338 KUHP Sub Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76C UU RI No 35/2014 tentang perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, Pasal 340 KUHP dan Pasal 80 ayat (3) Jo Pasal 76C UU RI No 35/2014 tentang Perubahan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak. “Ancamannya bisa seumur hidup, hukuman mati, atau paling lama 20 tahun penjara. Untuk saat ini, tersangka kami tahan di Polres Bantul,” sebutnya.

Terpisah, Kasatreskrim Polres Bantul AKP Ngadi menyebut akan melakukan pemeriksaan terhadap Aiptu Tomy. Koordinasi secara lisan pun telah dilakukannya. “Kebutuhan sesuai hasil pemeriksaan para saksi, Aiptu Tomy perlu diperiksa atau tidak, kami gelarkan dulu. Jadi akan kami agendakan nanti,” cetusnya.

Dalam rilisnya AKP Ngadi menyebut lima orang dalam daftar nama saksi kasus sate sianida. Mereka adalah Bandiman, 47; Raihan, 17, anak pertama Bandiman; Titik Rini, 44, istri Bandiman; Agus Subagti Wardoyo, 52; dan Bambang Mulyadi, 54. Sementara istri Aiptu Tomy yang sempat dimintai keterangan oleh Polsek Sewon, namanya hilang dari daftar. Termasuk Aiptu Tomy yang menjadi target utama sate sianida. (fat/laz)

Jogja Raya