RADAR JOGJA – Sudah lebih dari 14 bulan di Kota Jogja tidak melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara masal. Beberapa pekan terakhir sudah dimulai pembelajaran tatap muka. Namun, itu hanya terjadi di beberapa sekolah dan sifatnya masih sangat terbatas.

Dalam kurun waktu lebih dari satu tahun itu, pembelajaran daring (dalam jaringan) jadi pilihan. Namun harus diakui, efektivitas pembelajaran online itu tidak akan pernah bisa menyamai efektivitas pembelajaran secara langsung.
Hal itu diakui Kepala Dinas Pendidikan Kota Jogjakarta Budi Santosa Asrori. Menurutnya, pihaknya sudah melakukan beberapa hal untuk mencegah penurunan kualitas pendidikan secara drastis. Termasuk memberikan pedoman pembelajaran daring terhadap para guru.

“Kami berupaya seoptimal mungkin memberikan pedoman kepada guru agar mereka bisa melakukan pembelajaran jarak jauh dengan baik. Tapi ya tentu efektivitasnya beda. Kendala yang dihadapi juga banyak, misalnya soal keberadaan peralatan,” ujar Budi.

Menurut Budi, para guru juga perlu memahami cara penilaian yang baru terhadap para peserta didik. Karena diakui selama pembelajaran daring, tugas maupun ujian yang diberikan guru terhadap peserta didik kadang tidak dikerjakan langsung oleh mereka. “Di beberapa kasus misalnya, dibantu dikerjakan oleh orang tua atau dari bimbel (bimbingan belajar)-nya,” jelas Budi.
Situasi pandemi Covid-19 perlahan memang membaik. Hal itu terjadi berkat adanya program vaksinasi yang di dalamnya menyasar para guru dan tenaga kependidikan. Namun kapan pembelajaran tatap muka secara masal, masih belum bisa dipastikan.

Untuk itu, saat ini yang paling penting dilakukan adalah terus menjaga optimisme peserta didik. Agar mereka tetap bisa menjalani sekolah, baik secara tatap muka langsung maupun daring.
Selain itu nilai-nilai pendidikan karakter seperti gotong royong, saling membantu, tidak merasa sendiri menghadapi pandemi, juga perlu terus dibangkitkan. “Pembentukan karakter anak itu yang penting sekali,” tandas Budi. (kur/laz)

Jogja Raya