RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 memaksa sekolah menggelar pembelajaran jarak jauh (PJJ). Hal ini berdampak pada hilangnya kebiasaan baik siswa atau biasa dikenal dengan istilah learning loss. Bahkan bakat siswa pun tidak dapat disalurkan.

Salah satu siswa yang mengalami learning loss adalah Fandi Ahmad Endrasyoga. Rasa percaya diri pemuda 19 tahun ini turun, untuk mendaftarkan diri di salah satu prodi keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta. Lantaran sekitar satu tahun belakangan, siswa Kelas Khusus Olahraga (KKO) SMAN 1 Sewon ini tidak mengikuti kompetisi. “Jadi tidak bisa panen sertifikat,” cetusnya saat dihubungi Radar Jogja Minggu (2/5).

Padahal, jika ingin menempuh jalur prestasi, sertifikat kompetisi dapat sangat membantu Fandi. Akhirnya, siswa KKO cabang olahraga (cabor) sepak bola ini pun mendaftarkan diri dengan bekal sertifikat seadanya. “Kemarin saya mendaftar ke UNY, suruh buat portofolio. Itu disuruh foto sertifikat dan membuat video. Itu jadi gimana ya,” sebutnya.

Fandi mengaku resah karena kesempatannya lolos di UNY berkurang. Selain itu, tidak adanya kompetisi tingkat SMA turut membuat skill dan stamina atlet cabor sepak bola Kabupaten Bantul ini menurun. “Kayak ada rasa kurang, karena nggak ada kompetisi. Stamina sekarang juga beda dengan yang dulu,” keluhnya.

Hal itu lantaran Fandi tidak lagi mendapat pengawasan ketat dari pelatihnya. Sehingga diakui, latihan fisik yang dijalaninya pun menurun. Kendati begitu, ia mencoba optimistis dapat meraih mimpi diterima di UNY. “Nanti kalau mau uji fisik, ya menyiapkan diri sendiri. Perkuat latihan fisik, yang hampir menyerupai kalau sama pelatih,” ujarnya.

Learning loss juga dikhawatirkan oleh Sundari. Perempuan 30 tahun ini memiliki dua anak yang sedang dalam usia sekolah. Putra pertamanya duduk di kelas III SD. Sementara putra keduanya masih di bangku TK. “Anakku yang kedua sampai sekarang belum bisa baca,” ketusnya.

Sundari hanyalah lulusan SMA. Selain tidak memiliki keterampilan mengajar, ibu tiga anak ini pun membuka warung di rumah. Lantaran suaminya yang di-PHK oleh perusahaan belum dapat menopang biaya keluarga. “Jadi waktu untuk mengajar anak nggak ada. Tapi yo cen angel le ngajari (memang susah mengajarinya, Red),” ujarnya.

Selain itu, warungnya kerap menjadi lokasi anak-anak untuk berkumpul. Sehingga saat ia ingin mengajari anak keduanya, anak itu justru lari bersama teman-temannya. Jika begitu, Sudari pun hanya dapat menghela napas.
“Lah bocah ki le dolan nganti tengah mbengi. Kui loh do dolanan game online (Anak-anak di rumahnya sampai larut malam, mereka bermain game online, Red),” ujarnya.

Sementara untuk putra pertamanya, Sundari mengaku tidak kesusahan. Lantaran putra pertamanya terbiasa bangun pukul 06.00. Namun ia justru dikhawatirkan oleh teman-teman putranya. Lantaran beberapa teman putranya mengecat rambut, bahkan sampai gondrong.

“Kan kalau kelas satu sampai tiga di SD nggak ke sekolah. Jadi yo ngono, los (ya begitu, tidak diperhatikan, Red),” ungkapnya sambil berharap segera dilakukan pembelajaran tatap muka. (fat/laz)

Jogja Raya