RADAR JOGJA – Setahun mengenal teknik cetak fosil, Bernadeta Pudyas Minarsih terus bereksperimen menciptakan karya seni. Dia memanfaatkan tumbuhan untuk dibuat botanical fosil. Bahkan ilmunya itu dia bagikan melalui workshop dalam penutupan kegiatan Pasar Lebaran di Sleman City Hall (SCH), Minggu (2/5).

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Setahun belakangan ini dia disibukkan dengan eksperimennya. Dunia baru baginya, tapi dia konsisten menggeluti. Tampak piawai, jari-jarinya lentur memadukan cetakan clay (sejenis malam mengandung bahan silikon) dengan adonan gipsum. Dia dikerumuni ibu-ibu seusianya. Dengan sabar dan telaten ia menjawab pertanyaan ibu-ibu yang merupakan peserta workshop.

“Begini caranya,” ungkap perempuan yang akrab disapa Diaz, 47, ini saat ditemui Radar Jogja Minggu (2/5). Diaz menjelaskan satu persatu caranya. Mulai dari penyiapan alat dan bahan. Yaitu, alat pemukul dan gilingan dari kayu. Kemudian dua potong plastik bening dan potongan kertas karton untuk satu karya.

Awal mula menentukan ukuran dengan clay. Begitu adonan selesai, ambil tumbuh-tumbuhan dan tempelkan dipermukaan clay yang sudah disusun di atas lembaran plastik. Lalu tindas adonan atau dipukul-pukul hingga membentuk tekstur. Jika clay mulai mengeras, tumbuhan itu diambil atau dipisahkan hingga timbul tekstur dalam.

Kemudian bikin adonan lagi menggunakan tepung gipsum dan cetak di bagian atasnya. Menutupi permukaan tekstur dalam tadi. Setelah adonan padat dan merata, dibiarkan selama 30 menit. “Lalu adonan dibalik. Clay tadi dipisahkan,” ungkap Diaz memberikan instruksi kepada peserta yang tergabung dalam workshop itu.

Setelah clay dihilangkan, maka akan tercipta karya seni cetak tinggi. Tumbuhan yang tadi dibuat cap, menyisakan relief layaknya fosil. Ada bunga krisan, bunga kertas, mirip bunga sedap malam, dan edelwise. “Seperti inilah yang disebut botanical fosil,” terangnya.

Tak sampai di situ, untuk memastikan benar-benar kering maka dibutuhkan waktu satu minggu. Selanjutnya, baru divarnish. Menggunakan varnish dekorasi agar lebih mengkilap dan lebih awet. Adoanan gipsum yang kering agar tidak mudah tergores.

“Nah, kalau udah divarnish begini, langsung bisa diwarnai dengan cat akrilik,” tambahnya. Sembari mempraktikkan yang kemudian dilanjutkan oleh masing-masing peserta.

Botanical fosil ini, kata Diaz, bisa dijadikan barang dekorasi ataupun properti bangunan dinding. Dengan corak botanical akan menunjukkan kesan mewah dan berkelas. Selain itu juga tampak natural. Bisa ditata coraknya, disesuaikan dengan kebutuhan.

“Tidak hanya sebatas botanical. Animal atau barang lainnya juga bisa digunakan,” ungkap ibu rumah tangga asal Banyuraden, Gamping, Sleman, itu.
Selain itu, juga bisa dijadikan aksesoris perempuan. Jadi kalung ataupun gantungan kunci. “Fleksibel,” ucapnya.

Memiliki jiwa pendidik dan seni yang tinggi membuatnya tergerak. Memberikan dan membagikan ilmunya melalui workshop. Bahkan di masa pandemi Covid-19, sudah banyak yang memintanya memberikan kelas edukasi ini. Termasuk saat ini. Dia diundang Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil (UMK) Kabupaten Sleman untuk turut menyemarakkan Pasar Lebaran di SCH.

Salah seorang peserta, Arum, 50, warga Banguntapan sangat antusias mengikuti workshop. Baginya, ini pengalaman pertamanya. Tampak aneh tetapi seru. “Asyik dan menyenangkan mengikuti kegiatan ini. Setelahnya pengen coba lagi sendiri,” ucapnya. Dia pun kembali fokus mewarnai sampel replika botanical fosil yang sudah kering. (laz)

Jogja Raya