RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 menyisakan sejarah baru dalam dunia pendidikan Tanah Air. Kebijakan ini menyebabkan pendidikan melesu. Siswa tak punya pilihan lain, pembelajaran jarak jauh (daring) jadi rujukan. Banyak halang rintang, hingga pembelajaran ini berjalan kurang optimal.

“Kemarin salah satu media nasional yang memberikan hasil dari survei penelitian, efektivitas pembelajaran daring ini hanya maksimal 50 persen,” ungkap pengamat pendidikan dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Khamim Zarkasih Putro saat dihubungi Radar Jogja (30/4).
Dikatakan, tentu hal ini menjadi perhatian besar, karena efektifivas menjadi sangat terbatas. Hingga dikhawatirkan, generasi ini di masa yang akan datang akan terjadi lost generation. Yang dapat berdampak besar bagi generasi penerus bangsa.

Khamim yang juga sebagai sekretaris Dewan Pendidikan Kota Jogja ini mengungkapkan, berdasarkan hasil koordinasi dengan kepala dinas pendidikan, telah disepakati pembelajaran tatap muka hendak diselenggarakan pada tahun ajaran baru 2021/2022. Bahkan, secara aplikatif sejak 26 April lalu, SD dan SMP sudah dilaksanakan pembelajaran secara offline, meski baru sekolah yang ditunjuk untuk pilot project.

Kendati begitu, sebagai kelonggaran, sekolah lain tetap dapat menggelar tatap muka asal memenuhi persyaratan protokol kesehatan (prokes) ketat. Namun, tidak menutup kemungkinan online tetap bisa dilakukan, apabila orang tua siswa belum menyetujui anaknya mengikuti sekolah luring (luar jaringan).
“Asumsinya kalau tidak ada perubahan yang signifikan, kemungkinan tahun ajaran baru sudah full offline. Meskipun aturannya sangat longgar,” katanya.
Gelar kelas tatap muka, hendaknya juga harus memperhatikan vaksinasi siswa. Jangan sampai pembelajaran dimulai tapi siswa tak kunjung mendapatkan vaksin. Sementara warga sekolah lainnya, guru dan tenaga pendidik mendapatkan vaksin yang nyata.

“Tapi nada-nadanya belum, karena asumsinya usia anak masih prima dan tidak mudah tertular Covid-19. Tetapi mudah-mudahan ini tetap berjalan, ke depan siswa tetap mendapat vaksin,” harapnya.

Meski upaya preventif sudah dilakukan dan hasilnya belum bisa dikatakan 100 persen. Vaksinasi bagi siswa sangatlah penting ubtuk menjaga kekebalan tubuh.
Nah, kekhawatiran lost generation ini bisa dipahami. Sebab, pembelajaran cenderung kogniktif saja. Artinya, efeksi, character building dan sebagainya akan mengalami kesulitan yang sangat berat.

Meski anak sekolah daring menggunakan seragam, tetapi minim penjiwaan. Pembangunan karakter yang diproyeksikan dalam pendidikan, akan sulit. Lembaga pendidikan, sekolah advokasi, kejuruan, maupun praktik-praktik tidak mungkin didaringkan. Harus betul-betul dilakukan langsung.
Persiapan menghadapi offline ini, peserta didik harus bisa terlayani secara holistik tentang pembelajaran secara efektif, kognitif, maupun motorik yang harus diperseimbangkan. Kemudian langkah berikutnya memulihkan kondisi psikis anak-anak.

Lembaga pendidikan sementara ini, psikolog guru sangat terbatas, sehingga langkah selanjutnya adalah optimalisasi parenting kepada orang tua siswa. Supaya masing-masing wali murid bisa memfungsikan diri melakukan pendampingan, baik sebagai psikolog ataupun konselor.

Pembiasaan kembali kedisiplinan ini juga membutuhkan waktu, lalu mengaktifkan kembali tempat ibadah. Mengkondisikan kembali kedisipinan dalam pembelajaran yang ditata secara sinergitas antara murid, masyarakat, guru, orangtua, dan pemerintah.

Bagi siswa, mengakrabkan kembali perteman sebaya di sekolah. Setahun daring membuat hubungan pertemanan siswa agak renggang. Juga perlunya penyederhanaan atau perampingan kurikulum pendidikan yang dinilai gemuk di Indonesia.

Artinya, pendidikan bukan hanya kognitifasi. Pendidikan keimanan dan ketakwaan tetap harus mendapatkan porsi yang besar. Kurikulum Indonesia terlalu gemuk. Kebijakan apa pun paling mudah dititipkan melalui pendidikan. “Titipan wawasan lain di luar ilmu yang murni, dan ini tidak terjadi di negara maju,” tandasnya. (mel/laz)

Jogja Raya