RADAR JOGJA – Polisi menyebut adanya racun jenis C (diduga sianida) terkandung dalam sate ayam yang dimakan Naba Faiz Prasetya. Kendati begitu, ayah bocah sembilan tahun ini, Bandiman, menolak untuk dilakukan otopsi.
“Saya menolak, saya kasihan kalau makam anak dibongkar lagi,” tegas Bandiman saat ditemui di kediamannya, Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul Jumat (30/4).

Pria 47 tahun ini menyebut, polisi telah menyampaikan kemungkinan dilakukan otopsi. Bandiman menilai, uji laboratorium terhadap sisa sate ayam dan bumbunya yang dimakan Naba Faiz, sudah cukup. “Tetap menolak saya. Mending nggak usah, karena sisa makanan masih ada,” ujarnya.
Kali ini, Bandiman pun tidak berjuang seorang diri. Pengemudi ojek online (ojol) ini didampingi kuasa hukumnya bernama Chandra Siahaan. Dia adalah suami dari guru Naba Faiz.

“Saya mau fokus kerja. Saya kalau disuruh ke sana-ke sini, kan malah kacau sayanya. Kalau dimintai keterangan, saya baru datang,” ucapnya lirih.
Bandiman sejatinya mendapat dua tawaran pendampingan. Selain Chandra, ia juga sempat menerima kunjungan dari Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Universitas Islam Indonesia (LKBH UII).
“Dia (Chandra, Red) punya simpati, anak murid istrinya masak nggak dibantu. Saya bisanya cuma bilang terima kasih, kan kalau finansial nggak bisa,” sebut Bandiman.

Pria yang pernah kerja di pertambangan ini berharap, kasus yang menimpa keluarhanya dapat menjadi pelajaran. Terutama untuk rekan-rekan seprofesinya, agar tidak menerima pesanan orang tidak dikenal tanpa aplikasi online.

“Kami berharap kasus ini diusut sampai tuntas. Soalnya ini sudah merenggut nyawa anak saya. Jangan sampai ini terulang pada driver yang lain,” harapnya.
Sementara itu, Kasatreskrim Polres Bantul AKP Ngadi menyebut, penyelidikan terus dilakukan timnya. Perkembangan terbaru yang dapat dipastikan olehnya adalah sisa sate ayam dan bumbu yang dimakan oleh Naba Faiz mengandung racun jenis C.

“Penyelidikan lain masih berjalan, pemeriksaan terhadap Tomy masih kami agendakan,” ujarnya. Tomy adalah orang yang dituju menerima takjil sate ayam dari wanita misterius pemberi order, tapi menolak menerimanya karena tidak kenal si pengirim.

Kepolisian juga berkoordinasi dengan kejaksaan terkait kemungkinan otopsi korban. Namun, polisi memfokuskan diri dalam pencarian pelaku utama dalam kasus paket takjil beracun yang menewaskan bocah yang bercita-cita sebagai petugas pemadam kebakaran itu.

“Kami fokus untuk mencari pelaku dulu. Ini sedang berproses, mudah-mudahan segera diamankan,” bebernya. Polisi sendiri mengaku sudah menemui titik terang, dengan mengantongi identitas wanita misterius itu.

Sebelumnya diberitakan, Bandiman yang berprofesi sebagai ojol menerima order dari perempuan misterius. Namun perempuan itu berdalih tidak memiliki aplikasi ojol, sehingga order secara offline. Bandiman menyanggupi dengan meminta ongkos Rp 25 ribu, dan justru mendapat bayaran Rp 30 ribu.

Perempuan berparas ayu dengan tinggi sekitar 160 centimeter itu meminta Bandiman mengantarkan paket takjil dengan target Tomy. Perempuan itu pun membekali dengan alamat dan nomor kontak Tomy. Lalu mengatakan paket takjil itu dari Hamid asal Pakualaman, Jogja.

Sesampainya di rumah Tomy, paket takjil justru ditolak. Tomy yang berada di luar kota lantas menyuruh istrinya memberikan paket takjil itu kepada Bandiman. Lantaran Tomy mengaku tidak kenal Hamid dari Pakulaman dan merasa tidak pernah memesan takjil.

Sesampai di rumah, Bandiman berbuka bersama dengan istri dan kedua anaknya. Anak keduanya, Naba Faiz, meminta bertukar takjil dengan Bandiman. Saat memakan paket takjil berisi sate ayam yang diberi bumbu, Naba Faiz merasakan pahit, pedas, dan tidak enak. Siswa kelas IV SD itu kemudian minum air dari kulkas. Tak berselang lama, dia justru terjatuh. Faiz sempat mendapat penanganan di RSUD Kota Jogja. Namun nyawanya tidak tertolong.

Sianida, The Silent Killer

Pakar dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Departemen Farmakologi dan Farmasi Klinik, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada, Dr Arief Nurrochmad MSi, MSc., Apt menyebut sianida sebagai the silent killer. Racun yang sebagian besar tergolong dalam racun jenis C.

Istilah sianida mengacu pada bahan kimia yang mengandung ikatan karbon-nitrogen (CN). Racun jenis C ini lebih merujuk ke nama dengan struktur kimia mengandung (CN), bisa dalam bentuk siano (C≡N). Sianida dapat berupa gas tidak berwarna, seperti hidrogen sianida (HCN), sianogen klorida (CNCl), bentuk kristal seperti natrium sianida (NaCN), atau kalium sianida (KCN).

Kebanyakan orang tidak dapat mendeteksi bau sianida. Namun jika tercium atau dimasukkan dalam makanan/minuman, sianida terkadang dideskripsikan memiliki bau almond pahit. “Banyak zat yang mengandung gugus sianida, namun tidak semuanya beracun,” jelasnya dihubungi wartawan kemarin (30/4).

Kemungkinan meninggalnya orang yang memakan racun jenis C tergantung dari dosis paparan, waktu, dan cara penanganan saat keracunan. Jika dosisnya cukup besar dan waktu penanganan sudah terlambat lebih dari empat jam, kemungkinan besar meninggal cukup besar (90 persen). Dosis fatal sianida umumnya berkisar 1,5 miligram per kilogram tubuh manusia (105 mg/manusia 70kg) atau sekitar 0.1 g. “Lebih dari itu, racun sianida bisa sangat mematikan,” tegasnya.

Sianida merupakan salah satu komponen pestisida (racun serangga atau racun tikus) dan apotas yang mengacu ke potassium sianida yang sering digunakan untuk racun tikus/ikan. Dalam tubuh, sianida beraksi dengan mengikat bagian aktif dari enzim sitokrom oksidase. Sehingga akan mengakibatkan terhentinya metabolisme sel secara aerobic serta gangguan respirasi seluler serta pembentukan energy sel (ATP). “Hal ini akan mencegah sel-sel tubuh dalam menggunakan oksigen. Apabila hal ini terjadi, sel-sel dalam tubuh akan mengalami kematian dengan cepat,” ungkapnya.

Sianida sangat berbahaya bagi jantung dan otak dibandingkan organ-organ lain. Sebab jantung dan otak memerlukan banyak oksigen untuk berfungsi secara maksimal. Tanda awal dari keracunan sianida adalah peningkatan frekuensi pernapasan, nyeri kepala, sesak napas, perubahan perilaku seperti cemas, agitasi dan gelisah serta berkeringat banyak, warna kulit kemerahan, tubuh terasa lemah dan vertigo juga dapat muncul.

“Tanda akhir sebagai ciri adanya penekanan terhadap susunan saraf pusat dalam bentuk tremor, aritmia, kejang-kejang, koma, dan penekanan pada pusat pernafasan, gagal napas sampai berhentinya fungsi jantung,” bebernya.

Tindakan pertolongan pertama jika tidak sengaja menelan sianida, dengan tidak minum sesuatu dan jangan berusaha membuat diri muntah. Jika pakaian atau barang yang melekat di tubuh terkena sianida, segera lepaskan dan masukkan ke dalam kantong plastik yang tertutup, lalu lapisi kembali dengan kantong plastik.

Arief turut membenarkan keterangan kepolisian, zat kimia jenis sianida memang mudah didapat. Di mana biasanya berasal dari bahan-bahan rumah tangga seperti pestisida, racun tikus atau ikan, apotas, serta bahan untuk membuat atau menyepuh kerajinan emas dan perak. “Zat ini sangat mudah didapatkan secara online dan tanpa resep dokter. Nama di online-nya potas,” tandasnya. (fat/laz)

Jogja Raya