RADAR JOGJA – Mengantisipasi adanya arus mudik jelang Idul Fitri, upaya penyekatan juga bakal dilakukan di Kota Jogja. Ada dua titik penyekatan untuk menapis atau menyaring pemudik yang mencoba masuk kota melalui jalur alternatif.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, dua pos sekat itu yakni di Wirobrajan dan Gejayan. Ada juga empat pos pengamanan yang disiagakan dengan melibatkan unsur TNI, Polri, Satpol PP, Dinas Kesehatan yakni di Gedongkuning, Tugu, Teteg, dan Pos Pam Pos Besar.

Beberapa pos dan titik sekat ini sebagai upaya pengawasan jika ada potensi arus mudik dari luar DIJ pada 6-17 Mei mendatang. “Teknisnya nanti karena kota berada di tengah, ibarat kita hanya napis mereka yang mungkin pakai jalur-jalur berbeda. Karena penyekatan di perbatasan sudah dilakukan kabupaten, kita jadi pelapis kedua,” katanya usai Rapat Kooridinasi Ketupat Progo di Ruang Bima, Balai Kota, Jumat (30/4).

HP menjelaskan selama lima hari libur Lebaran pun yang diperbolehkan bepergian atau munculnya potensi wisata di Kota Jogja adalah hanya masyarakat yang sudah berada di wilayah DIJ. Di luar itu, yaitu selama waktu larangan mudik 6-17 Mei, tidak ada perjalanan orang dari luar DIJ yang masuk, kecuali dalam keadaan darurat baik karena keluarga orang meninggal atau sakit serta adanya surat tugas.

“Ya, kami nggak bisa tahu (mana yang orang mudik dan yang sudah ada di sini). Tapi asal nanti tidak ada kelengkapan surat-suratnya kan bisa kelihatan. Jadi kita masih ada pengecekan acak, semua harus menunjukkan kondisi sehat,” ujarnya.

Selain itu, antisipasi adanya arus mudik Pemkot Jogja juga siagakan Posko PPKM mikro di RT, RW, dan kampung. Petugas di wilayah akan melakukan monitoring terhadap kedatangan orang di wilayahnya masing-masing. “Kalau tidak ada surat-surat, harus ada tindakan-tindakan untuk mereka demi keamanan bersama,” jelasnya.

Kepala Satpol PP Kota Jogja Agus Winarto mengatakan, kegiatan patroli dan pengawasan arus mudik akan dilakukan pada 6-17 Mei dengan melibatkan 454 personel yang dibagi dalam tiga shift. Salah satu ketugasannya adalah melakukan operasi secara acak di tempat-tempat destinasi wisata dan parkir wisata. “Jadi wisatawan yang datang akan kita cek dokumen kesehatan dan surat perjalanannya,” katanya.

Sementara di wilayah Tugu, Malioboro, dan Keraton (Gumaton), pihaknya juga turut menegakkan protokol kesehatan 5M+1TM (tidak merokok) seiring telah dicanangkan sebagai kawasan tanpa tokok (KTR). Juga akan mengedukasi kepada pengunjung, selain prokes juga tidak merokok di sepanjang Jalan Malioboro.

“Termasuk personel kami yang tersebar di 14 kecamatan setiap hari penegakan prokes, edukasi dan penanganan terkait kegiatan yang berpotensi ada keramaian di masyarakat,” tambah Agus. (wia/laz)

Jogja Raya