RADAR JOGJA – Tim Peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) meyakini GeNose C19 mampu melacak varian-varian virus Covid-19. Seperti diketahui saat ini telah beragam muncul varian baru. Mulai dari varian Inggris B.1.1.7 hingga dua varian India B.1.617 dan B.1.618.

Juru Bicara Tim Peneliti dan Pengembang GeNose C19 Mohamad Saifudin Hakim menjelaskan kinerja GeNose C19. Alat pendeteksi dini Covid-19 ini, lanjutnya,  membaca Volatile Organic Compound (VOC) pada sampel napas manusia. Sehingga apapun varian virusnya akan tetap terdeteksi.

“Sistem GeNose tidak mendeteksi virus secara langsung tapi hasil metabolisme yang berupa VOC dari pasien terinfeksi Covid. Pola-pola VOC yang dihasilkan dari infeksi dengan beberapa varian itu kemungkinan tidak banyak mengalami perubahan,” jelasnya ditemui di University Club UGM, Jumat (30/4).

Keakuratan deteksi dikuatkan adanya sistem kecerdasan buatan atau artificial intelegent (AI). Kemampuan ini merupakan kelebihan dari GeNose C19. Berupa mampu mengenali dan mendeteksi keberadaan virus.

Walau begitu pendeteksian bukan berlangsung serta merta. GeNose C19 harus terlebih dahulu mempelajari Covid-19 varian baru. Berupa sistem rekaman yang terunggah dalam database. “Dengan banyaknya data yang akan dilatihkan di sistem AI tersebut bisa menjaga akurasi dari GeNose C19. Sehingga dengan adanya varian-varian baru yang beredar, kami tetap yakin, confidence bahwa GeNose tetap bisa menjaga akurasinya,” katanya.

Upaya ini dikuatkan dengan adanya uji validasi eksternal. Melibatkan tim independen diluar civitas akademika UGM. Diantaranya dari Universitas Andalas, Universitas Indonesia, dan Universitas Airlangga. Ketiga universitas ini ditunjuk oleh Kemenkes. Untuk kemudian memberikan kajian secara independen. Hasil evaluasi dari tim validasi eksternal kemudian menjadi catatan memori bagi tim GeNose C19.

“Uji validitas eksternal dilakukan di saat-saat ini ketika varian tersebut beredar, sehingga bisa melihat hasilnya kedepan. Tapi pada dasarnya kami tetap confidence performa GeNose tidak akan mengalami banyak perubahan,” ujarnya. (dwi/ila)

Jogja Raya