RADAR JOGJA – Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) terus mengalami mutasi. Terbaru adalah tiga mutasi Covid-19 di India. Varian ini dikenal dengan nama B.1.618. Merupakan hasil evolusi dari mutasi ganda yang sebelumnya dikenal dengan varian B.1.617.

Ketua Pokja Genetik FK-KMK UGM Gunadi tak menampik fakta mutasi Covid-19. Menurutnya, sebuah virus akan terus bermutasi. Kondisi inipula yang terjadi pada Covid-19. Kunci utama adalah tetap waspada dan disiplin protokol kesehatan.

“Mutasi masih terus berlangsung, jadi waspada itu perlu. Tapi semua itu bisa diantisipasi dengan patuh prokes. Termasuk jika sudah vaksin tetap patuh prokes,” jelasnya, Kamis (29/4).

Dosen FK-KMK UGM ini menjelaskan varian Covid-19 terbaru. Hingga saat ini terjadi mutasi dengan 2 atau 3 tingkatan. Menurut penelitian GISAID, mutasi ini belum masuk ke Indonesia. Walau begitu celah tersebut bisa terjadi.
Potensi masuknya mutasi baru bukanlah isapan jempol. Gunadi mencontohkan adanya mutasi varian Inggris B.1.1.7. Kala itu virus ini sudah terdeteksi di Indonesia.

Kondisi ini, lanjutnya, bisa terulang dengan adanya varian baru. Selama mobilisasi manusia masih cukup tinggi. Ditambah dengan lemahnya penerapan prokes dalam kehidupan sehari-hari.
“Supaya di tanah air tidak terjadi seperti di India maka perlu disiplin terhadap prokes. Meski sudah divaksin jangan lantas longgarkan prokes karena masih bisa terinfeksi,” katanya.

Gunadi memaparkan secara detil potensi bahaya varian B.1.618. Berupa mengandung tiga mutasi pada receptor binding domain (RBD) protein S. Lalu berikatan langsung dengan sel inang manusia yaitu E484Q, L452R dan V382L.
Mutasi E484Q, lanjutnya, terletak pada lokasi yang sama dengan mutasi E484K. Mutasi ini dideteksi pada varian Afrika Selatan dan Brazil. Sehingga mutasi E484Q diduga mempunyai sifat yang sama dengan E484K.

“Sifat mutasi E484Q itu bisa menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Kalau untuk varian B.1.617 maupun B.1.618 belum ada bukti penelitian. Apakah mempengaruhi kecepatan penularan, keparahan Covid-19 serta efektivitas vaksin,” ujarnya. (dwi/ila)

Jogja Raya