RADAR JOGJA – Masjid Gedhe Mataram Kotagede memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Dibangun era Mataram Islam oleh Kanjeng Panembahan Senopati pada tahun 1587. Masjid ini juga tergolong sebagai salah satu masjid tertua di Jogjakarta bahkan Nusantara.

Sebagai salah satu warisan Kasultanan Mataram, pembangunan memiliki nilai filosofi yang kuat. Tak terlepas dari Catur Gatra Tunggal yang memiliki empat wujud yang menjadi satu. Menjadi satu kesatuan antara kerajaan, masjid, alun-alun dan pasar.

“Catur Gatra Tunggal kalau sekarang itu seperti landasan idiil tapi ini di kerajaan. Setiap kasultanan pasti ada ini. Inspirasinya dari Sunan Kalijaga sebagai pendiri Kasultanan Demak,” jelas Koordinator Urusan Rumah Tangga Masjid Gedhe Mataram Kotagede Warisman ditemui di serambi Masjid Kotagede, Sabtu (24/4).

Setiap Gatra memiliki makna yang berbeda. Masjid merupakan simbol dari Ketuhanan yang Maha Esa. Kerajaan melambangkan kepemimpinan. Alun-alun merupakan perwujudan dari demokrasi dan pasar adalah simbol keadilan dan kemakmuran.

Itulah mengapa keberadaan masjid Kotagede memiliki nilai penting bagi Kasultanan Mataram. Berdirinya masjid ini sendiri atas perintah Sunan Kalijaga. Sosok ini juga berperan sebagai guru dari Kanjeng Panembahan Senopati.

“Saat itu masjid hanya berkembang di wilayah pantai utara Jawa. Mulai dari Gresik, Lamongan, Tuban, Rembang, Pati, Kudu, Jepara, Demak sampai Cirebon. Sedang di pedalaman atau pulau Jawa sisi selatan masih animisme dan dinamisme,” katanya.

Rekam jejak ini menunjukan wujud syiar Islam pada masa itu. Perlahan tapi pasti, syiar mulai masuk ke sejumlah pelosok Pulau Jawa sisi selatan. Tentunya diawali dari wilayah Kotagede.

Sejarah ini juga tak terlepas dari peran Sunan Kalijaga. Sang guru meminta Panembahan Senopati melakukan syiar secara merata. Alhasil Masjid Gedhe Mataram Kotagede menjadi pusat kegiatan dakwah pada jamannya.

“Kanjeng Panembahan Senopati sebagai raja sekaligus murid dari Sunan Kalijaga diperintahkan mengembangkan Islam di wilayah pedalaman pulau Jawa atau Jawa bagian selatan. Lalu diperintahkan membangun sebuah masjid yang berfungsi sebagai pusat kegiatan dakwah dan kegiatan pengembangan agama Islam,” ujarnya.

Lebih jauh, wilayah Kotagede pada awalnya adalah hutan belantara. Seluruhnya masuk dalam wilayah Kasultanan Pajang. Hingga akhirnya diberikan kepada Ki Ageng Pamanahan sebagai hadiah sayembara. Sosok ini adalah orangtua dari Kanjeng Panembahan Senopati.

Kala itu Raja Kasultanan Pajang Sultan Hadiwijaya menggelar sebuah sayembara. Barang siapa bisa mengalahkan dan menangkap Aryo Penangsang akan mendapatkan tanah perdikan di Mentaok. Tanah hadiah ini juga tak dipungut pajak oleh Kasultanan Pajang.

Saat itu Ki Ageng Pamanahan menawarkan diri. Tak sendiri, dia maju berperang bersama sejumlah kerabat. Salah satunya adalah Danang Sutawijaya atau nama kecil Panembahan Senopati.

“Ki Ageng Pamanahan itu pimpinan prajurit Wirotamtomo dari Kerajaan Pajang. Nah kenapa sayembara karena Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya itu masih satu guru, Sunan Kudus. Mau bertempur tidak sampai hati, maka membuka sayembara,” ceritanya.

Singkat cerita Ki Ageng Pamanahan memenangkan pertempuran dengan Aryo Penangsang. Hingga akhirnya mendapat tanah perdikan di alas mentaok. Walau pada awalnya Sultan Hadiwijaya ragu, karena khawatir akan muncul kerajaan baru.

Setelah benar-benar diserahkan, Ki Ageng Pamanahan dan Danang Sutawijaya meminta ijin kepada Sultan Hadiwijaya. Tujuannya untuk membuka alas mentaok menjadi hunian.

“Dari yang awalnya padukuhan Mataram lalu berkembang menjadi Kasultanan Mataram. Bersamaan dengan dibukanya tanah juga berdiri masjid Gedhe Mataram Kotagede ini. Kalau Ki Ageng Pamanahan tinggal di barat masjid, sekarang jadi makam raja Mataram,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya