RADAR JOGJA – Kasus pelemparan batu dengan korban dan pelaku anak berbuntut panjang. Masyrakat mempertanyakan kebijakan tidak menahan pelaku Ks. Padahal tindakan tersebut membuat korban berinisial K mengalami luka parah.

KPAI Kota Jogja sempat menjadi sasaran hujatan warganet. Berupa penegakan hak anak kepada pelaku Ks. Diketahui bahwa saat ini pelaku masih berusia 16 tahun.

“Kami ini di KPAI tugasnya adalah melindungi dan menjamin bahwa semua hak-hak anak itu terpenuhi. Sehingga kami berdirinya ya tidak hanya di pelaku. Tentu saja di korban. Jadi dua tugas kami ini akan kami lakukan dengan sebaik-baiknya,” jelas Ketua KPAI Kota Jogja Sylvi Dewajanti ditemui di Mapolsek Kotagede, Selasa (20/4).

Walau begitu Sylvi memastikan pihaknya tak bisa melakukan intervensi terhadap penyidikan. Dia menegaskan posisi KPAI berada diluar yuridiksi kepolisian. Perannya hanya memberikan rekomendasi atas pendampingan yang ada.

Pihaknya hanya memastikan bahwa proses penegakan hukum mengacu pada UU Peradilan Anak. Baik selama proses penyidikan hingga proses persidangan. Penahanan juga melalui prosedur yang berbeda.

“Sehingga kalau KPAI ini kemudian dipresepsikan bisa mengintervensi proses hukum itu salah sama sekali. Tetapi iya kami melakukan pengawasan. Terhadap hak-hak anak apakah terjamin. Baik di korban maupun di pelaku,” katanya.

Sylvi menegaskan bahwa pelalu tetap wajib mendapatkan hak anak. Ini karena ada Undang-Undang yang menjadi payung aturan. Tepatnya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.

“Jadi ini diantaranya yang harus saya sampaikan bahwa kami ini melakukan pengawasan terhadap terjaminnya hak-hak anak. Misalnya pelaku Ks ini, kami harus yakin bahwa hak-haknya juga masih bisa diperoleh,” ujarnya. (dwi/sky)

Jogja Raya