RADAR JOGJA- Sebanyak sepuluh  seniman Jogja melukis bersama sambil menunggu waktu berbuka puasa di Gedung DPD PDI Perjuangan DIJ, Sabtu (17/4).  Sekitar dua jam, para perupa menuangkan gagasannya melalui melukis on the spot dalam acara bertajuk Memotret Jogjakarta Kini.

Para pelukis menunjukkan keahlian mereka berkreasi dengan mempraktikkan gaya dan karakter masing-masing dalam menangkap secara cepat objek, karakter objek, serta kedalaman objek.

Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIJ GM Totok Hedi Santosa, menuturkan, Jogjakarta sebagai kota budaya kaya akan keragaman seni dan keunikan karakter masyarakatnya.

Realita itu bisa dilihat di perempatan-perempatan kota yang banyak memunculkan manusia silver. Sebuah art performance dari orang yang melumuri tubuhnya dengan cat perak dan berdiri mematung selama traffic light berwarna merah.

Ada pula badut dengan kostum teletubbies yang berjoget diiringi musik dangdut populer serta sekelompok pengamen yang menggunakan instrumen angklung dan perkusi.

Selain dari seni pertunjukan, Jogjakarta juga punya kekhasan tempat kuliner berupa angkringan. Warung makan kecil yang menyajikan makanan dan minuman tradisional dengan gerobaknya menjadi penambah ragam ikon kota ini. Tidak ketinggalan sepeda ontel yang jadi ciri khas alat transportasi di Jogjakarta.

“Fenomena-fenomena itu adalah secuil dari keunikan kehidupan sosial dan budaya masyarakat Jogjakarta yang nantinya akan menjadi ide dan subyek bagi para seniman untuk dituangkan ke dalam kanvas dalam acara melukis on the spot ini,” katanya.

Totok menambahkan, “Para pelukis yang terlibat dalam kegiatan ini juga terlibat dalam pameran lukisan AKARA yang akan digelar di kantor DPD PDI Perjuangan DIJ pada 5 sampai 30 Juni 2021.

Ada 78 perupa yang bakal terlibat dalam perhelatan seni ini. Sederet nama seniman kondang juga akan ikut memamerkan karyanya di kantor DPD PDI Perjuangan DIJ, di antaranya Butet Kartaredjasa, Ong Hari Wahyu, Bambang Herras, Budi Ubrux, Bunga Jeruk, Agung Pekik, Laksmi Shitaresmi, Nasirun, Ugo Untoro, dan Putu Sutawijaya,”jelasnya.

Sementara itu salah satu pelukis yang ikut serta dalam kegiatan itu, Wilman Syahnur mengapresiasi kegiatan itu dan berharap agar acara serupa bisa terus digalakkan. Sebab, kegiatan seni dan budaya sangat berguna dalam menghidupkan ide-ide kreatif di masyarakat.

Dalam kesempatan itu, dia mengangkat lukisan seorang anak kecil yang matanya tertutup dengan dua telapak tangan berwarna merah dan putih. Lukisan itu menurutnya menggambarkan tentang kebenaran sejarah di Indonesia yang kerap digunakan oleh penguasa untuk kepentingan komoditas politik kaum dan golongannya sendiri. Saya menggunakan cat aklirik di atas kanvas dengan teknik palet dan kuas,”ujarnya. (sky)

Jogja Raya