RADAR JOGJA -Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ memastikan uji coba kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka tetap berlangsung 19 April. Tercatat ada 10 sekolah tingkat SMA dan SMK yang akan mengawali metode ini.

Tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Jogjakarta diantaranya SMA N 1 Pajangan Bantul, SMK N 1 Bantul, SMA N 1 Gamping  Sleman, SMK N 1 Depok Sleman, SMA N  2 Playen GunungKidul,SMK N 1 Wonosari Gunungkidul, SMA N 1 Sentolo Kulonprogo, SMK N 2 Pengasih Kulonprogo,SMA N 6 Kota Jogja, SMK N 1 Kota Jogja  dipersiapkan untuk PTM tersebut.

Kepala Disdikpora DIJ, Didik Wardaya menuturkan, setiap sekolah telah bersiap diri. Terutama dalam menyiapkan protokol kesehatan di lingkungan sekolah. Mulai dari jaga jarak, tempat cuci tangan yang terpasang di depan kelas.

“Setiap sekolah membentuk tim satuan gugus tugas tingkat satuan pendidikan. Tugasnya mulai dari pendataan, penyiapan alat pelindung diri (APD) di sekolahnya masing-masing. Evaluasi terakhir semua sudah dilakukan,” jelasnya ditemui di Kantor Disdikpora DIJ, Kamis (15/4).

Protokol kesehatan tak hanya berlaku di luar kelas. Penerapan yang sama juga berlaku di ruangan kelas. Paling utama adalah menjaga jarak antar siswa. Skemanya satu meja hanya diisi oleh satu siswa.

Tentang wacana penyekatan, Didik menilai belum perlu. Ini karena setiap kelas hanya diisi kapasitas 50 persen. Hanya saja tetap ada evaluasi berjalan atas pelaksanaan KBM tatap muka.

“Nanti kemudian kira-kira, dua minggu kami lakukan evaluasi. Apa yang masih kurang akan dibenahi,” katanya.

Didik menambahkan, kesepuluh sekolah, akan menjadi percontohan. Termasuk evaluasi yang dilakukan selama penerapan KBM tatap muka. Hingga mendapatkan formula yang tepat untuk diterapkan ke semua sekolah.

Hanya saja penerapan formula bertahap. Pertimbangannya adalah kesiapan masing-masing sekolah. Didik tak ingin KBM tatap muka berjalan dengan keterpaksaan.

“Kemudian diikuti sekolah lain yang relatif siap. Jadi memang tidak serentak selama tahun ini, semester ini tidak serentak,” ujarnya.

Pemilihan 19 April memiliki alasan tersendiri. Tujuannya agar para guru penerima vaksin mencapai kondisi kesehatan yang prima. Tepatnya setelah mendapatkan dua kali suntik vaksin Covid-19.

Didik menuturkan para guru dan tenaga pengajar telah mendapatkan vaksin. Khususnya 10 sekolah yang akan menjalani KBM tatap muka. Pemberian suntik vaksin sendiri telah berlangsung pada 19 Maret.

“Kami konsultasi dengan Dinas Kesehatan bahwa efektivitas vaksin 28 hari berarti sampai 16 April. 16 April itu hari Jumat maka tanggal 19 April kita mulai uji percontohan bahasanya,” katanya. (dwi/sky)

Jogja Raya