RADAR JOGJA – Bagi yang pernah mencicipi kebab, perlu datang ke Tarbush, di Jalan Kaliurang Km 5,5 Sleman. Mencoba kebab dengan cita rasa asli Timur Tengah yang di tempat asalnya disebut shawerma.

Pendiri gerai Tarbush, Ahmad Ali mengatakan, kudapan Shawerma yang disajikan rasanya otentik dengan yang biasa ditemui turis saat plesir ke Timur Tengah maupun Eropa.

“Kebab yang dirasakan di Indonesia berbeda. Karena sudah disesuaikan dengan lidah lokal. Nah, yang meracik bumbu, memasak, dan menyajikan shawerma ini kami sendiri dibantu satu koki dari Suriah untuk menjaga orisinalitas rasanya,” ujar Ahmad Ali ditemui Senin sore (12/4).

Pria asal Yordania ini bersama rekan senegaranya Noor Al Shwike dan pria asli Jogja Abdullah yang kemudian membuka Tarbush. Noor menambahkan, yang membedakan dengan kebab, shawerma tidak menggunakan daging dari seluruh bagian sapi. “Hanya dari bagian pahanya saja,” ujarnya.

Menurut dia, alasan  menggunakan daging dari bagian paha sapi untuk menjaga rasa segar atau sensasi juicy ketika disantap. Bagian paha sapi itu juga dinilai paling ideal saat dipanggang secara berputar dengan mesin khusus untuk mendapatkan tingkat kematangan yang diinginkan.

Sebelum daging dipanggang, 15 jam sebelumnya sudah diolah terlebih dahulu dengan 33 macam bumbu khusus khas Timur-Tengah. Lalu didiamkan atau istilahnya diungkep. Sebagian bumbu yang digunakan musti didatangkan dari negara-negara Timur Tengah karena tak tersedia atau sulit ditemukan di Indonesia.

Tak kalah asyiknya, harga shawerma ini pun cukup ramah di kantong. Hanya Rp 29 ribu untuk isi daging sapi dan Rp 25 ribu untuk isi daging ayam yang juga dipanggang dengan bumbu serupa.

Di gerai Tarbush ini ada pula ayam panggang yang dimasak dengan rempah Arab dengan harga terbilang sangat murah. Untuk satu ayam potong utuh tanpa kepala hanya dibanderol Rp 39 ribu.

Abdullah mengaku butuh waktu lama untuk menghasilkan menu sesuai yang otentik Timur Tengah. Dia harus berkeliling ke berbagai supplier bahan makanan untuk mendapatkan bahan yang sesuai. Itu karena standar tinggi yang ditetapkan chef untuk masakannya. “Jadi hasilnya benar-benar otentik Timur Tengah,” ungkapnya. (om2/ila)

Jogja Raya