RADAR JOGJA – Pertumbuhan bayi kerdil atau stunting masih menjadi fokus pemerintah dalam menekan angka kemiskinan. Pemerintah pusat menargetkan angka stunting nasional harus di bawah 14 persen pada 2024.
Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan, menekan satu angka stunting tidak mudah. Percepatan penurunan angka stunting diperlukan upaya gotong royong dan kerjasama dengan berbagai pihak.

Dia menilai, Kabupaten Sleman cukup berhasil menekan angka stunting di bawah angka nasional. Dan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, kasusnya terus menurun. ”Ini menjadi contoh kabupaten lain. Kendati begitu, masih menjadi PR bersama bagaimana bersinergi memutus rantai stunting,” jelas Hasto dalam sosialisasi, advokasi dan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) progam Bangga Kencana Peran Pemuda dalam Percepatan Penurunan Stunting di Westlake Resto Sleman, Senin (12/4).

Disebutkan untuk di Godean, Pakem, Minggir masih ada kantong stunting. Maka dari itu, penekanan stuntung harus dilakukan bersama-sama.
Dikatakan, BKKBN baru saja me-launching seribu mitra untuk seribu hari kehidupan. Seribu hari kehidupan yang dimaksud adalah pencegahan stunting harus dimulai dari seribu hari sejak pertama kehidupan atau dari nol. “Ke depan tidak cukup seribu mitra tetapi harus sejuta mitra,” ungkapnya.

Dilokasi yang sama Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyampaikan, angka stunting bumi sembada pada 2020 mencapai 7,24 persen. Lebih rendah dibandingkan 2019 8,38 persen dan 2018 sebanyak 11 persen.

Masalah stunting, menurutnya dipengaruhi oleh pendapatan, kesenjangan ekonomi, urbanisasi, globalisasi, sistem pangan, kesehatan, jaminan sosial, pembangunan pertanian dan pemberdayaan perempuan. Dalam menekan stunting ini, dibutuhkan upaya dari segi intervensi gizi spesifik mengatasi penyebab langsung. ”Seperti, asupan makanan, kesehatan ataupun gizi ibu, infeksi, penyakit menular ataupun kesehatan lingkungan,” katanya.

Sasaran intervensi gizi spesifik ini adalah ibu hamil, ibu menyusui dan anak usia nol hingga 23 bulan, remaja putri dan perempuan usia subur, anak usia 24 bulan hingga usia 59 bulan. Intervensi spesifik ini dilakukan oleh sektor kesehatan dan dapat memberikan evektifitas hingga 30 persen.

Dikatakan, pendidikan stunting bagi calon orangtua dan kalangan remaja sangatlah penting, untuk mencegah kasus stunting lebih dini. Dalam hal ini pemeritah telah menyiapkan Perda nomor 16 tahun 2019 tentang Pembinaan Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga. Lalu Perbup Sleman nomor 31 tahun 2019 tentang Pencegahan Perkawinan pada Usia Anak. ”Ada juga Perbup Sleman nomor 27 tahun 2019 tentang program Percepatan Penanggulangan Balita Stunting,” terangnya. (mel/bah)

Jogja Raya