RADAR JOGJA – Guna mengantisipasi sebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19), serta untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi pengunjung.

Puluhan pedagang pasar sore Kampung Ramadan Jogokariyan (KRJ) menjalani tes GeNose C19 di Masjid Jogokariyan, Selasa (13/4).

Takmir Masjid Jogokariyan Gitta Welly Ariadi menuturkan,  ada sekitar 180 pedagang yang meramaikan pasar sore KRJ. Keputusan tes GeNose C19 sendiri berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya. Kala itu pedagang memadati ruas jalan Jogokariyan. Hanya saja tak ada pengawasan secara ketat dalam bidang kesehatan.

“Pengalaman tahun kemarin karena memang pasar sudah terbentuk ternyata sudah banyak yang jualan, padahal kami tak koordinir. Jadi tidak bisa menata mereka. Tahun ini kami adakan lagi (pasar sore) dengan tujuan bisa kontrol prokesnya,” jelasnya ditemui di sela-sela tes GeNose C19.

Terkait pemeriksaan kesehatan berlangsung periodik. Tahapan awal menyasar sekitar 25 pedagang. Rencananya berlangsung setiap seminggu sekali. Sehingga kondisi kesehatan akan terus terpantau.

Pendaftaran GeNose C19 sejatinya dibuka setiap hari. Hanya saja ada kendala ketersediaan kantong nafas. Alhasil pemeriksaan kesehatan berlangsung secara periodik.

“Kalau ada yang positif, seperti rekomendasi sarankan untuk PCR untuk memastikan. Lalu tidak boleh melayani pembeli. Bisa diganti dengan saudara itupun tetap melalui tes GeNose lagi,” katanya.

Untuk biaya, Welly memastikan tak membebani pedagang. Berupa biaya pengganti kantong nafas atau minimal Rp 15 ribu. Sementara untuk HEPA filter ganti setiap 100 kali pemakaian.

Welly berharap pemeriksaan kesehatan dapat memberi rasa aman dan nyaman. Tak hanya bagi pedagang dan warga sekitar tapi juga para pembeli. Memastikan lingkungan pasar sore KRJ minim terpapar Covid-19.

“Ini sudah komitmen, semua penjual harus sudah melalui tes GeNose, negatif dari Covid-19. Lebih ke pelayanan agar yang berbelanja percaya diri, lebih tenang karena penjual sudah kami tes (GeNose C19),” ujarnya.

Tak cukup dengan GeNose C19, pedagang juga wajib patuh protokol kesehatan. Diantaranya wajib menggunakan masker dalam setiap proses transaksi. Lalu menjaga jarak dengan pembeli maupun stan pedagang lainnya.

Sanksi tegas berlaku apabila ada pedagang yang melanggar. Berawal dengan teguran lisan terhadap pedagang. Apabila tak ada evaluasi maka hak berjualan terancam dicabut.

“Bagi yang melanggar prokes akan ada peringatan bertahap. Kalau diulangi lagi, kami cabut hak berjualan di pasar sore. Ini tugas bersama, pedagang memerlukan survive menggalakan perekonomian tapi disatu sisi juga wajib menjaga prokes,” katanya. (dwi/sky)

Jogja Raya