RADAR JOGJA – Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIJ tidak melarang kegiatan buka bersama dan pembagian takjil di masjid-masjid sepanjang bulan Ramadan nanti. Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Wilayah (PW) DMI DIJ Muhammad Thoriq.
Meski tak ada larangan, pihaknya telah meminta kepada takmir dan panitia Ramadan untuk mengatur penerapan protokol kesehatan di masjid. Terutama saat kegiatan buka bersama yang biasa mengundang kerumunan, sehingga berpotensi meningkatkan penularan Covid-19.
“Kalau yang riskan itu buka bersama. Kalau salat kan bisa berjarak, kalau buka bersama bisa jadi problem,”  tujarnya kemarin (11/4).
Menurut Thoriq, selain memfasilitasi jamaah untuk beribadah, takmir juga perlu berperan aktif dalam upaya pencegahan penularan Covid-19 di masjid-masjid. Takmir juga perlu beradaptasi di tengah situasi pandemi seperti saat ini.
“Kami sudah memberikan imbauan karena tidak mungkin kita menangani sendiri. Yang isa mengatur kan takmir atau panitia Ramadan,” jelasnya.
Thoriq mencontohkan penerapan protokol kesehatan saat penyelenggaraan kegiatan di masjid.  Panitia diminta untuk tidak menyediakan hidangan prasmanan, mengingat dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19.
Sehingga makanan yang disediakan harus disediakan dalam box ataupun take away. “Jangan prasmanan. Kalau di kita sebenarnya malah nasi bungkus tidak apa-apa,”  bebernya.
Selain itu, panitia perlu melakukan pengaturan agar antrean warga tidak terlalu dekat. Selain itu pembagian takjil harus dilakukan dengan pengaturan jarak antrean, sesuai dengan protokol physical distancing.
Ketua Komisi A DPRD DIJ Eko Suwanto mengingatkan masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan dalam masa ibadah di bulan Ramadan. Menurutnya, masyarakat sebaiknya bisa menahan diri untuk melaksanakan ibadah sesuai prasyarat protokol kesehatan.
“Prokes kami harapkan harus terus dilaksanakan di bulan Ramadan hingga Idul Fitri nanti. Kami berharap warga DIJ bisa jadi pelopor penegakan protokol kesehatan. Kalau terkait kegiatan yang sifatnya berkumpul, ya harapannya ditunda dulu demi kebaikan bersama,” ungkap Eko.
Di tingkat masyarakat, Eko juga berharap adanya Jagawarga dan Satlinmas dapat menjadi ujung tombak penerapan prokes. Tercatat sampai saat ini ada 30 ribu lebih Jagawarga dan Satlinmas di wilayah DIJ. (kur/laz)

Jogja Raya