RADAR JOGJA – Masjid Jogokariyan turut melakukan persiapan menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1442 Hijriah di tengah pandemi Covid-19. Pelaksanaannya tentu akan jauh berbeda dari sebelum pandemi.
Ketua Panitia Kampung Ramadan Jogokariyan, Muhammad Syafiq Hamzah mengatakan, meski masih dalam situasi pagebluk, pasar sore mulai digelar tahun ini. Tahun lalu, tradisi pasar yang menyediakan berbagai kudapan untuk berbuka puasa ini tidak digelar karena masih awal pandemi.
“Tahun ini kami ingin kembali membangun semangat para warga kami terutama yang perekonomiannya merasakan penurunan akibat pandemi,” katanya kepada Radar Jogja kemarin (11/4).
Syafiq menjelaskan, pelaksanaannya akan digelar menyertai dengan penerapan protokol kesehatan (prokes) ketat. Termasuk kuota stan pedagang yang disediakan tidak sebanyak seperti kondisi normal. Pada kondisi di luar pandemi, jumlah kuota stan dan pedagang bisa mencapai 200-250 kavling.
Saat ini dibatasi sekitar 50 persennya menjadi 170-an stan. Antar stan juga berjarak sekitar 2-2,5 meter. “Juga ada petugas di lapangan untuk memantau jalannya prokes,” ujarnya.
Petugas akan ditempatkan dititik-titik wastafel tempat cuci tangan. Sepanjang Jalan Jogokariyan sudah disiapkan empat titik fasilitas tempat cuci tangan dan disinfektan. Serta tiga titik dalam area Masjid. Selain itu, pedagang maupun pengunjung wajib bermasker. Tanpa masker maka dilarang memasuki area Kampung Ramadan Jogokariyan.
Para pedagang pun dikasih waktu hingga pukul 18.30 lapak atau stan harus sudah sudah bersih. Tidak sekadar itu saja, ternyata pedagang juga wajib melakukan pemeriksaan GeNose C19 setiap sepekan sekali untuk mencegah penyebaran virus. “Aturan-aturan itu sebisa mungkin kami terapkan pada event kali ini, bahkan insya Allah lebih baik dari pasar-pasar lain,” jelasnya.
Pihaknya juga sudah memberikan tanda identitas para pedagang yang di stan untuk memudahkan filter dengan pedagang liar. “Kalau pedagang tanpa identitas dimohon tidak berjualan di situ,” terangnya sambil menyebut dengan melakukan pendekatan tanpa kekerasan.
Dia menyambut baik dengan saran pemerintah kota untuk mengaplikasikan sistem dirve thru pada pasar sore Ramadan kali ini. Namun demikian, pihaknya belum bisa mengaplikasikan saran itu. Tetapi aturan-aturan lain seperti prokes ketat tetap akan diterapkan selama berjalannya kegiatan pasar sore Ramadan.
Selain itu, biasanya Masjid Jogokariyan menyediakan takjil piringan dengan jumlah besar. Kali ini disediakan takjil dalam bentuk box. Target dalam sehari menyediakan 2.500-3 ribu porsi.
Terpisah, Anggota Komisi B, DPRD Kota Jogja Nurcahyo Nugroho mengapresiasi adanya tradisi pasar sore Ramadan. Ini menjadi salah satu momentum kebangkitan aktivitas ekonomi masyarakat. “Kalau untuk layanan drive thru maupun antisipasi kerumunan, saat ini masyarakat sudah sangat paham untuk bisa menjaga diri agar terhindar dari penularan Covid-19,” katanya. (wia/laz)
Jogja Raya