RADAR JOGJA — Kalurahan Mangunan, Dlingo, Bantul merupakan kawasan potensi wisata. Namun, pandemi Covid-19 membuat industri pariwisata di kawasan ini mandeg. Tidak kehabisan akal, Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Mangunan mulai melirik usaha lain guna pemasukan. Pengelolaan sampah pun dicanangkan sebagai Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal).
Carik Mangunan, Dwi Eko Susanto menjelaskan, Kalurahannya sedang berusaha memaksimalkan potensi. Situasi pandemi membuat wisata sepi, bahkan sempat mengalami penutupan. Maka potensi di luar pariwisata pun digali. “Kami memaksimalkan potensi BUMKal, salah satunya pengelolaan sampah rumah tangga,” ujarnya kepada Radar Jogja ditemui di kantornya kemarin (10/4).
Mesin pengelolaan sampah pun sudah dimiliki oleh Mangunan. Mesin seharga Rp 190 juta itu merupakan bantuan dari Dinas Pengendalian PEnduduk KB Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPPKBPMD) Bantul. Masih baru dan siap dioperasionalkan BUMKal. “Dalam rangka untuk mengatasi persoalan sampah di wilayah kami, sebutnya.
Dalam rancangan yang disusun, Pemkal akan melakukan sosialisasi kepada warga untuk berlangganan. Sistemnya, iuran bulanan sekitar Rp 30 ribu. Sebab dinilai masih banyak warga yang belum memiliki kesadaran lebih terkait sampah. Menurut dia, selama ini orang mungkin membuang sampah ke lahan pribadi dan tidak terurus. Ada yang ke sungai. “Itu bisa teratasi,” cetusnya.
Sebagai percontohan, Pemkal menunjuk Dusun Sukorame. Di mana warga di dusun tersebut diberi pendidikan untuk memilihan sampah. Setiap warga memiliki karung sendiri (untuk berbagai jenis sampah, Red). Meskipun demikian, itu belum tentu maksimal. “Jadi kami masih akan kembali melakukan pemilahan,” kata dia.
Guna memastikan BUMKal tetap berjalan, Pemkal Mangunan akan membuat peraturan. Untuk mengatur secara khusus semua kawasan wisata, kami memiliki 10 titik objek wisata, yang di situ asupan sampahnya banyak.”Akan kami wajibkan untuk bekerjasama,” bebernya.
Selain itu, kelompok potensial penyumbang sampah lain juga akan diminta kerjasama. Misalnya rumah makan yang berlokasi di Mangunan. “Dalam hal ini menjadi semacam konsumen atau pelanggan, (karena memiliki, Red) potensi sampah yang nanti dapat dikelola,” ucapnya.
Saat ini BUMKal pengelolaan sampah belum berjalan. Lantaran menunggu peresmiannya oleh Bupati Bantul. Dalam uji coba, mesin pengelo mampu membakar satu karung sampah dalam waktu kurang dari lima menit. Di mana mesin mampu bekerja selama tujuh jam dan abu pembakaran dapat menjadi pupuk. “Kapasitas mesin belum kami pastikan, tapi dalam satu hari bisa kerja tujuh jam. Dan kalau uji coba kemarin, satu sak tidak membutuhkan waktu lima menit. Kalau satu hari kami belum bisa hitung, berapa volume sampah yang bisa masuk,” tandasnya. (fat/pra)

Jogja Raya