RADAR JOGJA – Gajah-gajah keraton sudah meninggalkan “Bangsal Gajahan” di Alun-Alun Kidul (Alkid). Gajah-gajah itu telah dititipkan di Kebun Binatang Gembira Loka dan bercampur dengan gajah-gajah lain.
Hal ini sangat disayangkan oleh anggota DPRD Kota Jogja Rifki Listianto. Keberadaan gajahan Alkid menjadi daya tarik sendiri untuk wisata di Kota Jogja. Terlebih, dampak positif dari gajahan Alkid lebih banyak dibanding dampak negatifnya.
“Pada saat itu banyak pengunjung yang datang ke Alkid untuk melihat gajah. Banyak itu, jadi destinasi wisata bagi keluarga atau orang luar alias para wisatawan itu karena keunikannya,” kata Rifki kepada Radar Jogja kemarin (9/4).

Rifki Listianto Anggota DPRD Kota Jogja.(Istimewa)

Keunikan itu yakni keberadaan beberapa ekor gajah di luar dari kebun binatang yang berada dalam kandang di kompleks Alkid. Seperti saat politikus PAN itu kecil, tidak pernah luput untuk melihat gajah-gajah itu. “Di perkampungan ada kandang gajah itu yo menarik, lucu. Wong harusnya di kebun binatang. Saya dulu kecil di situ kalau main,” ujar Rifki yang rumahnya di belakang Gajahan Alkid.
Anggota Komisi B ini menjelaskan, secara faktor ekonomi keberadaan gajahan berdampak positif bagi pedagang dan masyarakat sekitar. Misalnya untuk pembelajaran edukasi, kesejahteraan warga sekitar, destinasi wisata, dan lain-lain. “Banyak dampak positifnya dibanding mudaratnya,” tandasnya.
Kabarnya, dulu gajah-gajah itu dipindah karena menjadikan lalu lintas di kawasan Alkid macet. Rifki melihat yang menimbulkan kemacetan di kawasan Alkid karena semrawutnya pedagang kaki lima (PKL) yang tidak bisa ditata.
Dikatakan, jika berkomitmen terhadap kebudayaan Jogja itu sendiri, keberadaan Gajahan Alkid bisa untuk menambah destinasi wisata yang unik, sesuai basis wisata budaya di Jogja. Keberadaannya memiliki pertimbangan filosofi kebudayaan Jawa. “Saya sepakat untuk didorong, gajahan difungsikan lagi,” jelasnya.
Pasca gajahan dipindahkan, daya tarik wisata di Alkid mulai bergeser. Pertama menjadi fasilitas publik, lapangan, permainan, fasilitas olahraga, dan lain-lain. Terlebih muncul odong-odong. Pengumpulan massa di Alkid tetap tidak bisa terhindarkan sampai akhirnya kegiatan ekonomi menjadi mengumpul di sana.
“Tapi kalau gajah dulu memang unik. Itu ada kandungan filosofi dan edukasi. Kalau yang sekarang kan cuma sebatas hiburan,” tambah Rifki. (wia/laz)

Jogja Raya