RADAR JOGJA – Pesona ikan mas koki atau goldfish, seakan tak pernah redup. Peminat ikan dengan nama latin Carrasius Auratus itu masih sangat ramai. Apalagi, di tengah pandemi Covid-19 seperti saat ini.

Memiliki bentuk perut yang buncit. Di bagian kepala terdapat benjolan dengan struktur yang tidak rata. Kombinasi corak warna di bagian sisik kian menambah daya tarik tersendiri bagi siapa saja yang melihatnya.

Andrian Kristiawan, salah seorang breeder ikan mas koki asal Sleman mengungkapkan, salah satu kepuasan memelihara goldfish karena bentuknya yang menggemaskan. Bisa dijadikan obat penghilang stres. “Kalau saya memang bisa nurunin stres. Selama pandemi saya nggak pernah nonton tv, tapi nontonnya ikan. Lihat bodinya yang cantik,” kata pria yang akrab disapa Albiruni itu kepada Radar Jogja, Jumat (9/4).

Selain itu, peluang bisnis ikan hias ini juga sangat menjanjikan. Meski perawatannya tergolong agak rewel. Karena goldfish rentan terkena penyakit. “Justru karena perawatan yang susah itu yang bikin mahal. Koki menurut saya, ikan tantangan banget tapi sangat menguntungkan,” ungkapnya.

Albiruni mengatakan, memelihara goldfish sama halnya seperti merawat anak sendiri. Penghobi goldfish harus benar-benar detail memerhatikan kesehatan ikan. Yang terpenting adalah menjaga kualitas dan temperatur air. “Jadi misal perubahan cuaca nggak tahan, suhu air nggak pas antara nitrat dan pH bisa mati. Bisa dibilang ikan lemah, rumah saya itu sudah ngalahin apotek, segala macam obat ada,” bebernya sembari tertawa.

Bisnis goldfish milik Albiruni sudah dirintis sejak 2015 silam. Awalnya hanya sekadar hobi, namun kini pria 32 tahun itu menjadi salah satu breeder yang sukses di Kota Gudeg. Ada berbagai macam jenis goldfish yang dia jual di rumahnya, Perum Taman Pesona Asri Blok A 4, Ngebo Sukoharjo, Ngaglik, Sleman. Di antaranya, Oranda, Ranchu, Ryukin, Tosakin, Demekin, Black Moor dan masih banyak lagi.

Untuk harga dipatok kisaran ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah. Goldfish lokal dijual berkisar Rp 50 ribu sampai Rp 800 ribu. “Saya jual yang premium dari ikan lokal, impor dan show. Ada juga yang Rp1,5 juta-Rp 3 juta, dan Rp 6 juta-Rp15 juta. Bahkan yang mahal lagi hingga Rp 20 juta- Rp 25 juta,” papar Albiruni.

Yang pasti, ia menuturkan harga Goldfish tergantung kualitas ikan. Meliputi kerapian ikan yang dilihat dari body, sirip punggung atau dorsal, lalu anal fin dan lain-lain. Ada yang besar murah dan ada yang kecil mahal. Artinya tidak bisa diukur dengan size. “Misal orang cari warna, ya kadang ada warna yang sangat rapi antara kanan dan kiri biar balance. Antara kepala dan badan dia balance,” tambahnya.

Dikatakan, selama pandemi penjualan goldfish cukup stabil. Bahkan hampir setiap hari ia memenuhi pesanan hingga ke luar Jawa. “Alhamdulillah laku dan kirim, ada yang datang juga ke rumah. Saya kan bisnis utama jual beli mobil. Kadang saya jual satu ikan bisa sama untungnya seperti satu mobil,” ucapnya. (ard/laz)

Jogja Raya