RADAR JOGJA – Pemprov DIJ menaruh perhatian serius terhadap kasus dugaan bocornya soal matematika pada asesmen standar pendidikan daerah (ASPD) di sebuah SMP negeri di Sleman. Pemprov meminta kasus ini diusut tuntas dan pelaku pembocoran diberikan sanksi.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, pihaknya sudah meminta panitia ASPD dan kepala Dinas Pendidikan Pemuda, dan Olahraga (DIsdikpora) DIJ untuk mengusut tuntas dugaan bocornya soal ujian ASPD itu. “Kalau nantinya terbukti bocor, pelakunya ditindak tegas,” tandasnya Jumat (9/4).
Menurut Aji, jika memang terbukti ada kebocoran soal matematika itu, maka ada dua kemungkinan. Pertama, peserta didik harus melakukan ujian ulang melalui ujian susulan dengan soal yang berbeda. “Lalu kepada yang bersangkutan yang memang melakukan kecurangan, silakan diberikan sanksi administrasi,” kata Aji yang ditemui di Kompleks Kepatihan, Jogja.
Jika kebocoran soal itu dilakukan oleh pelaku aparatur sipil negara (ASN), maka sanksi disiplin kepegawaian harus dikenakan. Kalau bukan ASN, sanksinya sesuai ketentuan yang berlaku. Sanksi yang diberikan bisa mulai dari teguran, pernyataan tertulis, penundaan pangkat, hingga penundaan gaji secara berkala.
Aji menegaskan, panitia dan Disdikpora DIJ kembali melakukan penelusuran kebenaran kebocoran soal ASPD itu, apakah dari panitia atau dari guru di SMP yang bersangkutan. Mantan kepala Disdikpora DIJ ini mengatakan, ASPD bukan merupakan syarat utama kelulusan siswa.
Dikatakan, ASPD merupakan pengganti ujian nasional (Unas) yang tidak dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Maka DIJ butuh melihat seberapa jauh daya serap pembelajaran yang dilakukan guru kepada siswa selama ini. “ASPD ini semacam evaluasi. Kalau kurang, ada proses perbaikan. Kalau kelulusan sepenuhnya menjadi kewenangan guru di sekolah,” ujar Aji.
Ia menambahkan, kalau terbukti ada kecurangan dalam ujian ASPD, maka nilai tidak dipakai dan yang dipakai ujian ulangnya dan ujian susulan. Sejauh ini yang dia ketahui dugaan bocornya soal ujian ASPD itu hanya di satu sekolah dan belum mendapat laporan terjadi juga di sekolah lain.
Sekadar informasi, ASPD merupakan ujian pengganti Unas yang dilakukan secara tatap muka atau siswa datang ke sekolah. Menurut Aji, ujian langsung ini dianggap aman karena dibagi dalam beberapa ruangan.
Terpisah, Ketua Komisi D DPRD DIJ Koeswanto juga mendorong hal serupa. Persoalan itu harus diusut tuntas Namun, politisi PDIP ini menyarankan agar permasalahan itu diselesaikan secara internal terlebih dahulu. “Jangan langsung dibawa ke kepolisian, internal dulu,” ujarnya.
Ia sendiri mengaku prihatin dengan peristiwa yang terjadi di Sleman itu. Apalagi selama ini DIJ dikenal sebagai provinsi yang erat kaitannya dengan pendidikan. Pihaknya juga meminta dinas terkait untuk bisa memulihkan kepercayaan masyarakat.
Sementara itu, Kepala Disdikpora DIJ Didik Wardaya mengaku belum mengetahui sejauh mana kebocoran soal ASPD di salah satu SMP di Kapanewon Depok itu. Pihaknya baru membentuk tim pencari fakta (TPF). “TPF terdiri atas Dinas Pendidikan di kabupaten-kota dan DIJ, plus Dewan Pendidikan,” tandas Didik.

Kepsek SMPN 4 Depok Tidak Mau Komentar

Terkait dugaan soal matematika ASPD yang bocor di SMPN 4 Depok, Radar Jogja sudah menghubungi via pesan dan telepon kepada pihak yang bersangkutan, dalam hal ini Kepala Sekolah SMPN 4 Depok Lilik Mardiningsih, Kamis (8/4). Kendati begitu, Lilik baru merespons Jumat (9/4).
Ia mengatakan, terkait hal ini pihaknya enggan berkomentar. Alasannya sudah dirilis langsung dari dinas terkait, Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ pada Kamis (8/4) lalu.
“Maaf, sudah di rilis dinas, monggo ditanyakan saja ke dinas,” ungkap Lilik melalui pesan Whatsapp (WA) kepada wartawan koran ini. (kur/mel/laz)

Jogja Raya