RADAR JOGJA – Menjelang bulan Ramadan sejumlah kebutuhan bahan pokok mulai merangkak naik, seperti komoditi telur ayam dan ayam boiler. Kenaikan sudah terjadi sejak pekan lalu.
Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan, Dinas Perdagangan Kota Jogja Sri Riswanti mengatakan, kenaikan komoditi ini terjadi secara bertahap dan cepat. Minggu lalu harga komoditi telur masih di kisaran Rp19 ribu-Rp20 ribu. Pada Kamis (8/4) sudah naik menjadi Rp 24 ribu-Rp25 ribu.
Kemudian daging ayam potong, pantauan minggu lalu seharga Rp 34 ribu per kilogram. Pada Minggu (4/4) kemarin sudah mulai naik berkisar Rp37 ribu-Rp38 ribu. Harga di pedagang keliling sudah tembus Rp 40 ribu. “Kalau patokan harga di Pasar Beringharjo untuk telur Rp 23 ribu-Rp 24 ribu, untuk ayam Rp 37 ribu,” katanya Sabtu (9/4).
Riswanti menjelaskan, setiap tahun menjelang bulan puasa selalu terjadi kenaikan harga kebutuhan lauk primer, seperti telur dan ayam di masyarakat. Namun dengan kenaikan ini tidak berpengaruh terhadap ketersediaan di peternak. “Saya rasa di situ aja naiknya. Jadi tidak sampai tembus Rp 28 ribu. Tahun kemarin kan sempat tembus Rp 28 ribu,” ujarnya.
Dikatakan, pasokan masih cukup aman, hanya memang hal ini jadi tradisi di masyarakat akan kebutuhan yang meningkat. Demikian pula dari sisi keterjangkauan harga, dinilai tidak ada lonjakan yang meresahkan.
“Sebenarnya ini kayak nyuwel menjelang Lebaran kebutuhan lauk primer kayak latah sih. Hanya yang penting itu ketersediaannya cukup, tidak terjadi panic buying. Kalau lihat telur di harga Rp 25 ribu, masyarakat masih bisalah harga segitu,” jelasnya.
Diungkapkan, ketersediaan melihat info peternak ayam di Prambanan cukup banyak dan tidak terkendala dengan suplai. Ia menyebut pasokan telur di Pasar Beringharjo kebanyakan dari Prambanan dan Magelang.
Kenaikan harga komoditi telur ayam ini difaktori kebutuhan masyarakat yang meningkat lantaran memproduksi kue kering dan roti memasuki bulan puasa. Tetapi tidak serta merta akan berdampak buruk ketika suplai tidak ada atau kurang. Asalkan, suplainya stabil. Sejauh ini masih dalam tataran wajar.
“Kemarin rapat kami dengan pelaku usaha toko modern menyatakan suplai cukup dari gula pasir, tepung terigu, beras, telur, minyak goreng. Mereka sudah dari jauh-jauh hari melakukan PO (pre order), jadi saatnya menyambut Ramadan sudah tidak ada masalah dengan suplai,” jabarnya.
Demikian pula kepada pasar rakyat, terpenting selama ini komoditas dari distributor lancar, sehingga tidak menjadikan masalah untuk suplainya. Disamping juga dari pemkot tidak ada pembatasan untuk arus distribusi bahan pangan, meski masih dalam masa PPKM mikro.
“Dari Bulog juga menyatakan pasokan beras, gula pasir, minyak, telur, cukup. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan,” terangnya.
Meski kenaikan masih terbilang wajar, intervensi tetap dilakukan dengan menggelar pasar murah di halaman Disperindag Provinsi, Jalan Kusumanegara Jogja. Komoditi yang dijual meliputi gula pasir, tepung terigu, minyak goreng, dan beras.
Sementara Kepala Disdag Kota Jogja Yunianto Dwisutono mengatakan, untuk komoditi telur menjelang bulan Ramadan ada kenaikan harga. Ini lantaran adanya perubahan perilaku konsumsi, dari daging dan ayam beralih ke telur saat puasa. Sebab, diklaim pengolahannya relatif mudah dan gizinya mudah terserap saat santap sahur. Serta persiapan pembuatan kue-kue Lebaran. “Ada kenaikan sedikit, tapi masih sebatas wajar,” katanya.
Meski begitu, dengan kenaikan ini secara komprehensif memberikan dampak positif yakni keuntungan bagi peternak. “Kalau stoknya aman. Untuk kebutuhan pokok dari Bulog juga terkendali, baik stok maupun harga,” tambah Yunianto. (wia/laz)

Jogja Raya