RADAR JOGJA – Soal matematika pada asesmen standardisasi pendidikan daerah (ASPD) hari Rabu (9/4) lalu, diduga bocor di SMP negeri di Kapanewon Depok. Dugaan bocornya soal ujian yang dikuti siswa kelas IX ini ramai di media sosial, termasuk grup WhatsApp (WA).

Bocornya soal matematika ini disayangkan banyak pihak. Seorang siswa SMPN 4 Jogja Sabrina Zakiyyatul Mahsunah mengaku kecewa adanya indikasi kebocoran soal matematika, setelah mendengar kabar yang beredar di medsos. Selama ini yang sudah dipelajari seperti muspro, lantaran ada siswa lain yang tinggal menghafalkan kunci jawabannya.

“Ya, pasti ada rasa kecewa. Kayak ngerasa aku dan teman-temanku yang lain ngerjain dengan sungguh-sungguh, eh ternyata ada yang tinggal hafalin kunci jawaban. Tapi, nasi udah jadi bubur. Mau berbuat apa pun juga nggak bisa. Nunggu keputusan dari dinas aja, baiknya gimana,” cetusnya.

Kepala SMPN 15 Jogja Siti Arina Budiastuti juga menyayangkan dugaan bocornya soal matematika ini. Tetapi, hal itu dijadikan pelajaran dan ambil sisi baiknya, yakni untuk melatih siswa ujian di luar jaringan maupun persiapan masa new normal di sekolah. Meski harapannya ingin hal itu juga segera ditindaklanjuti oleh dinas.

“Semoga di mana yang bocor dapat diulangi dengan soal lain yang sama bobotnya. Sehingga dapat kita pakai sebagai ukuran prestasi siswa,” kata Siti.

Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sleman telah menindaklanjuti peristiwa ini. Soal ASPD matematika itu diduga mirip dengan soal pelatihan yang sebelumnya diberikan dari pihak sekolah. Dan, kemudian menjadi viral di media sosial (medsos) pada Rabu (7/4).

“Soal ASPD yang viral itu sudah kami klarifikasi langsung dengan guru mata pelajaran yang bersangkutan dan pihak sekolah juga tadi di Disdikpora DIJ,” ungkap Kepala Disdik Sleman Ery Widaryana saat menggelar jumpa pers terkait hal ini di Pendopo Parasamya, Pemkab Sleman, Kamis (8/4).

Ery mengatakan, pihaknya sudah mengajukan pelaksanaan ASPD mata pelajaran matematika agar digelar ulang di sekolah itu, apabila memang dugaan itu terbukti benar. Kendati demikian, Disdik Sleman hanya sebatas mengajukan, sedangkan keputusan menggelar ASPD ulang di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) DIJ.

Hal ini juga merujuk pada hasil tim pencari fakta (TPF) Disdikpora DIJ yang baru terbentuk Kamis (8/4), untuk mengusut kasus tersebut. Ery mengaku tak tahu menahu soal-soal pelatihan dari sekolah dengan soal ASPD dari Provinsi DIJ yang diduga mirip.

Dia menegaskan, soal-soal itu dibuat dari Disdikpora DIJ. “Kami nggak tahu soal yang diujikan itu seperti apa. Karena paket soalnya itu tidak hanya satu, banyak dan disebar paketnya,” terang Ery.

Pihaknya hendak berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian Pelatihan dan Pendidikan (BKPP) Sleman apabila dalam pengusutan, terbukti ada oknum di Sleman yang kedapatan melanggar. Yakni dengan memberi sanksi.

“Seperti apa sanksinya, nanti kami komunikasikan dengan BKPP. Kami belum bisa menjawab, karena belum ada faktanya,” ujar Ery.

Disebutkan, dari hasil klarifikasi dari pihak sekolah, soal-soal yang diduga mirip itu merupakan kumpulan soal pelatihan seperti halnya soal-soal pelatihan (tryout) menjelang ujian. Dan, guru tidak terlibat dalam penyusunan soal ASPD.

Terpisah, Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman Harda Kiswaya mengatakan, berdasarkan klarifikasi langsung oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan saat di panggil di Kantor Disdik Sleman, adanya kemiripan bentuk soal tidak dinyana. Sebab, guru itu mengumpulkan soal-soal pelatihan dari kota dan kabupaten di DIJ. “Merupakan inisiatif guru, berupaya mengumpulkan soal-soal dari zoom,” katanya.

Menanggapi apabila ada aduan pelaporan terkait hal ini, dikatakan pemkab siap mendampingi. Pihaknya juga siap mempublikasikan apa pun hasilnya. Kendati begitu, ia menekankan agar tidak sampai ada pelaporan. Diharapkan semua kondusif. (mel/wia/laz)

Digelar Ulang, Diikuti 130 Siswa

Terkait dugaan bocornya soal matematika ini, Kasi Perencanaan Disdikpora DIY Suci Rahmadi mengatakan, pihaknya telah membentuk tim investigasi untuk mengusut fakta yang terjadi. Tim investigasi terdiri atas jajaran OPD Disdikpora DIJ dari tiap-tiap kabupaten/kota dan Dewan Pendidikan. Nah, hasil investigasi berikutnya juga akan ditindaklanjuti.

Tim investigasi akan menyusun fakta-fakta lapangan. Disdikpora DIJ akan memanggil pihak-pihak yang terkait dengan dugaan kebocoran soal itu pada hari Jumat ini (9/4). “Kalau sudah ada kepastian dugaan itu benar, saya kira secara keadilan harus ada ujian ulang dengan soal berbeda,” ujar Suci.

Perlu diketahui, ASPD sebagai bahan evaluasi pembelajaran jarak jauh. ASPD direncanakan sebagai salah satu syarat perhitungan melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi. ASPD tidak untuk kelulusan siswa. Hal ini mengacu pada Permendikbud Nomor 1 Tahun 2021 tentang Peniadaan Ujian Nasional dan Ujian Kesetaraan serta Pelaksanaan Ujian Sekolah dalam Masa Darurat Persebaran Covid-19.

Terpisah, Kepala Disdikpora DIJ Didik Wardaya mengatakan, pelaksanaan ASPD secara umum berjalan lancar. Hanya beredar di media sosial (medsos) adanya indikasi kebocoran soal matematika sebelum diujikan. Dari dua paket soal matematika yang ada, satu paket diduga yang bcoor.

“Itu baru indikasi, kita masih telusuri itu, apakah benar bocor atau tidak. Setelah kita cocokkan yang ada di medsos dengan apa yang ada di paket satu, itu kan sama mirip,” kata Didik Kamis (8/4).

Meski begitu, setelah dilokalisasi dari indikasi kebocoran soal itu, tidak sampai menyebar ke sekolah-sekolah lainnya. Pihaknya langsung membentuk tim untuk menelusuri adanya indikasi kebocoranini. “Kami akan menelusuri kebenaran kebocoran, apakah itu hanya kebetulan atau ada oknum,” ujarnya.

Disdikpora mengupayakan langkah agar memberi rasa aman dan tidak ada pihak lain yang merasa dirugikan akibat hal ini. Atau membuat resah dan khawatir siswa yang notabene telah belajar dengan sungguh-sungguh. Langkah itu, termasuk bakal menggelar ujian ASPD ulang khusus pelajaran matematika di sekolah yang terindikasi kebocoran.

Sembari proses mencari fakta terkait dengan dari mana sumbernya. “Supaya memberi rasa nyaman kepada yang lain juga. Konsekuensinya dengan soal berbeda. Kita masih punya paket soal lain,” jelasnya.

Direncanakan ujian ulang akan digelar bersamaan dengan ujian ASPD susulan 15 April mendatang. Ujian susulan hanya diikuti siswa SMPN 4 Depok kelas IX dengan jumlah 130 siswa.

Selain itu, manakala muncul fakta adanya kebocoran pihaknya akan melakukan perbaikan sistem dari pelaksanaan ASPD yang menjadi komponen dalam seleksi PPDB jenjang SMA ini. Atau jika adanya oknum yang menyebar luaskan soal, maka diserahkan kepada wilayah yang menjadi kewenangan yaitu kabupaten/kota untuk menindaklanjuti.

Hal ini juga menjadi evaluasi kabupaten/kota dalam menulis soal, sebaiknya tidak diketik sendiri oleh penyusun soal. Melainkan ditulis tangan dan diketik oleh tim pengetik dari dinas terkait. “Ini evaluasi juga untuk kabupaten/kota, sebenarnya kalau nulis soal tidak boleh membawa handphone (HP), kamera flash dan laptop sendiri. Ini yang harus kita perbaiki di situ,” tambah Didik. (wia/mel/laz)

Jogja Raya