RADAR JOGJA – Sekretaris Provinsi (Sekprov) Pemprov DIJ Kadarmanta Baskara Aji memastikan penyekatan di wilayah perbatasan Jogjakarta-Jawa Tengah selama musim mudik lebaran masih tentatif. Ini karena pelaku perjalanan jarak jauh terlebih dahulu terjaring di wilayah Jawa Tengah. Terutama yang berasal dari wilayah Jabodetabek.

Aji menilai penyekatan di wilayah Jawa Tengah berdampak signifikan ke Jogjakarta. Apalagi wilayah administrasi Jogjakarta memang terhimpit Jawa Tengah. Sehingga seluruh pelaku perjalanan jarak jauh atau pemudik terlebih dahulu terjaring di luar wilayah Jogjakarta.

“Kami kan sebetulnya jika melakulan screeniny yang ketat di jalan sudah tidak memungkinkan. Tetapi di Jogjakarta ini ada keuntungan kalau Jawa Tengah sudah ketat. Kalau pemudik lewat jalan darat tentu screening sudah dilakukan oleh Jawa Tengah,” jelasnya, Jumat (9/4).

Walau begitu Aji memastikan tetap ada pengawasan kepada para pemudik atau pendatang. Langkah ini guna mengantisipasi sebaran kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Terutama yang berasal dari pendatang yang masuk ke Jogjakarta.

Salah satu tindakan adalah pemeriksaan kesehatan dengan teknik sampel acak. Hanya saja mekanismenya tetap melihat situasional lapangan. Tujuannya agar alur pelayanan publik tidak terganggu.

“Tidak setiap hari kami melakukan itu (sampel acak). Karena justru layanan pada pemakai jalan terganggu. Pemakai jalan tidak semuanya pemudik kan ada logistik dan seterusnya,” katanya.

Sementara untuk moda transportasi kereta api dan pesawat menjadi tanggungjawab pengelola transportasi. Berupa pemeriksaan kesehatan sejak keberangkatan dari dari daerah asal. Salah satu syarat utama adalah membawa surat bebas Covid-19.

Upaya preventif juga menyasar hingga tingkat kampung. Berupa pengoptimalan peran Satgas Covid-19. Untuk melakukan pendataan kepada para pendatang yang masuk dan menginap di wilayah masing-masing.

“Jika diputar balik pasti cari jalan tikus. Lebih baik lakukan screeninylg di satgas desa, dusun hingga RT. Mereka ada yang disiapkan karantina. Dicek kesehatannya dan seterusnya,” ujarnya.

Langkah terakhir adalah melakukan karantina kepada pendatang yang terlanjur masuk. Kebijakan karantina ini untuk mengantisipasi sebaran Covid-19 dari para pendatang. Wewenang ini lanjut Aji berada di Satgas Covid-19 desa.
Apabila tak memiliki fasilitas, desa dapat berkoordinasi dengan wilayah sekitarnya.

Untuk mengelola sebuah gedung menjadi tempat karantina. Pendatang terlebih dahulu dikarantina sebelum berkunjung ke rumah warga.

“Mereka yang datang harus karantina. Kalau bawa surat bebas negatif pemeriksaan saya kira karantina seminggu sudah cukup. Kalau tidak bawa sekali harus periksa,” tegasnya.

Dalam kesempatan ini Aji menjawab tentang bukanya destinasi wisata. Berupa keresahan warga kerumunan tetap bisa terjadi di wilayah wisata. Terutama saat libur lebaran tiba.

Mantan Kepala Disdikpora DIJ ini menjelaskan wisatawan bukan sepenuhnya pendatang atau pemudik. Bisa berasal dari wilayah sekitar Jogjakarta. Memilih untuk berlibur di wilayah Jogjakarta daripada ke wilayah lainnya.

“Sebetulnya orang Jogja sendiri butuh rekreasi. Kalau mereka tidak boleh keluar kan rekreasinya tetap di Jogja. Maka tempat wisata di Jogja akan didatangi masyarakat kita sendiri,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya