RADAR JOGJA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan Siklon Seroja meningkat drastis. Terutama dalam dua hari terakhir, dan ada kemungkinan dalam beberapa hari ke depan.

Untuk itu BNPB meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) di enam provinsi untuk siap siaga dalam mencegah dampak siklon tropis itu. Enam provinsi yang dimaksud adalah DIJ, Jawa Tengah, Bali, NTT, NTB, dan Lampung.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati menjelaskan, pihaknya berharap BPBD di enam provinsi menyiapkan langkah kesiapsiagaan untuk mencegah dampak siklon tropis Seroja terhadap masyarakat maupun kerusakan infrastruktur.

“Siklon tropis ini juga dapat mendorong peningkatan kecepatan angin yang berdampak pada peningkatan ketinggian gelombang di sebagian wilayah perairan Indonesia,” kata Raditya dalam penjelasannya.

Ia menjelaskan BNPB merekomendasikan BPBD di enam provinsi tersebut untuk melakukan sejumlah langkah yang diperlukan. Terutama jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu tak lupa untuk sebisa mungkin mencegah penularan virus korona.

Sejak beberapa hari terakhir, hujan dan angin kencang kerap melanda DIJ. Terutama ketika sudah memasuki sore atau malam hari. Intensitas hujan itu juga lebat dan dengan durasi yang tidak sebentar.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIJ Danang Samsurizal mengungkapkan, potensi cuaca ekstrem memang terjadi setiap tahunnya. Tepatnya saat musim pancaroba tiba.

Sejak awal musim penghujan, BPBD DIJ telah menyiapkan segala sumber daya personel maupun logistik untuk menghadapi segala potensi bencana yang ada. “Sudah kami antisipasi setiap tahun. Kalau musim pancaroba, cuacanya seperti ini ada cuaca ekstrem. Mitigasinya sama,” jelas Danang.

Soal siklon tropis Seroja, Danang menyatakan dampak yang ditimbulkan di DIJ diprediksi tidak signifikan. Sehingga langkah mitigasi yang disiapkan sama dengan tahun-tahun sebelumnya. “Dampak paling besar memang di NTT,” tandasnya. (kur/laz)

Jogja Raya