RADAR JOGJA -Detasemen Khusus(Densus) 88 Antiteror Polri menggeledah rumah berlokasi di RT 27 RW 06, Suryowijayan, Gedongkiwo, Mantrijeron, Kota Jogja,  Jumat (9/4). Rumah tersebut milik warga berinisial F.

Ketua RW 06 Hadi Prawoto membenarkan adanya peristiwa penggeledahan ini. Dia mengaku awalnya didatangi sekelompok orang. Lalu mengaku sebagai personel Densus 88 dan mengajak Hadi sebagai saksi penggeledahan.

“Kurang lebih jam 09.00, karena itu warga kami maka dari pihak petugas konfimasi dahulu lalu dilaksanakan penggeledehan di rumah. Di sana sudah ada istrinya, suaminya sepengatuhuan daya sudah di Polda,” jelasnya ditemui di kediamannya, tak jauh dari lokasi penggeledahan, Jumat (9/4).

Hadi menuturkan, ada beberapa barang yang turut diamankan. Diantaranya buku dengan beragam judul. Adapula rompi tanpa emblem dan tiga bilah pisau daging.

Selama penggeledahan, Hadi tak melihat sosok Fa. Dia sempat bertanya kepada istri terduga tentang keberadaan warganya itu. Hingga akhirnya didapati jawaban bahwa Fa telah diamankan sebelumnya.

“Hanya buku tapi tidak tahu isinya. Lalu rompi kosong tanpa nama. Pisau yang biasa untuk menyembelih sapi saat kurban, ada pisau 3 atau berapa dikumpulkan tapi entah dibawa atau tidak,” katanya.

Hadi sempat bertanya kepada istri Fa tentang keberadaan suaminya. Hanya saja perempuan tersebut juga tak mengetahui secara pasti. Informasi yang didapatkan, terduga telah diamankan di Polda DIJ.

Hadi juga menceritakan kronologi pengamanan Fa. Pria kelahiran 1974 ini diamankan setibanya di Bandara Internasional Soekarno Hatta Cengkareng. Untuk kemudian dibawa ke Jogjakarta dan berlanjut dengan penggeledahan kediaman.

“Infonya habis dari Turki, lalu di bandara Cengkareng langsung dijemput dan dibawa ke Jogja. Tidak tahu urusan apa di Turki, apakah keluarga atau apa tidak tahu,” ujarnya.

Terkait keseharian Fa, Hadi memastikan srawung dengan warga. Sosok ini dikenal sebagai pendakwah. Kesibukannya lebih sering berlangsung di luar kampung. Walau begitu ada jadwal khusus berdakwah di kampung Gedongkiwo sekali dalam seminggu.

Fa didapuk sebagai pendakwah di masjid Kampung setiap hari Selasa. Dalam berdakwah, Hadi memastikan Fa tak menyimpang. Tema yang diusung cenderung menyejukkan. Bahkan tidak ada sekalipun bersinggungan dengan aksi terorisme dan radikalisme.

“Profesinya setahu saya ya ustad. Dakwah tidak ada masalah, menyejukkan, bahkan tidak pernah menyinggung yang aneh-aneh. Tidak setuju kaitannya dengan bunuh – membunuh,” katanya.

Fa, bukanlah warga asli Gedongkiwo. Hanya saja telah pindah kependudukan sebagai warga Gedongkiwo usai menikah dengan istrinya. Hingga kini memiliki anak seusia pelajar SMP.

“Warga pendatang yang asli sini istrinya. Menikah sudah lama anaknya saja sudah SMP. Setelah menikah pindah KTP sini,” ujarnya.(dwi/sky)

Jogja Raya