RADAR JOGJA – Kepala Dinas Kesehatan DIJ Pembajoen Setyaningastutie menjamin ketersediaan vaksin Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) masih aman. Terbaru telah mendapatkan 12 ribu vial atau sekitar 120.000 dosis vaksin. Seluruhnya diperuntukan untuk Kabupaten Sleman, Gunungkidul dan Kota Jogja.

Pembajoen menuturkan ketersediaan di masing-masing kabupaten dan kota juga masih mencukupi. Setidaknya saat ini setiap wilayah memiliki 1.500 vial atau 15 ribu dosis. Pelaksanaan berlangsung dengan pendataan di masing-masing wilayah.

“Terbaru ini juga datang kiriman dari pemerintah pusat. Kami jamin masih mencukupi untuk vaksinasi. Untuk jenis vaksin yang didapatkan masih Sinovac,” jelasnya ditemui di Jogja Expo Center, Kamis (8/4).

Pembajoen menjabarkan capaian vaksinasi sejak tahap pertama. Untuk sumber daya manusia kesehatan mencapai 134 persen. Untuk petugas publik gelombang pertama mencapai 45 persen dan 25,17 persen pada tahapan kedua.

Pada tahapan lansia mengalami kendala. Terlihat dari data capaian yang belum optimal. Untuk dosis pertama baru tercapai 12,8 persen dari target awal. Dalam angka baru tercapai 37.864 orang dari total data 590.892 calon penerima vaksin.

“Bahkan untuk vaksin tahap kedua untuk lansia juga masih 1.34 persen atau 3.956 orang. Realitanya seperti itu, masih sangat kecil,” katanya.

Kendala ini tak hanya terjadi di tingkat wilayah. Angka capaian vaksinasi kepada lansia secara nasional tergolong kecil. Alhasil untuk saat ini para lansia menjadi prioritas utama penerima vaksin Sinovac.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, lanjut Pembajoen, meminta ada pendekatan khusus kepada para lansia. Tujuannya agar capaian vaksin para lansia lebih tinggi. Harapannya agar potensi terpapar Covid-19 dengan gejala berat semakin kecil.

“Sekarang vaksin itu sesuai dengan amanah pak menteri kesehatan harus menyasar lansia. Baru kemudian guru. Kenapa lansia, karena sangat rentan,” ujarnya.

Strategi yang digunakan adalah dengan vaksinasi massal. Padahal sesuai pedoman, para lansia menjalani vaksinasi di fasilitas pelayanan kesehatan wilayah. Hanaya saja seiring waktu berjalan, strategi ini belum efektif.

“Lalu yang kedua enggak kerso keluar rumah, mlakune kepie, adoh. Ketiga ada riwayat komorbid hipertensi, diabetes melitus dan jantung. Jadi ada banyak catatan,” katanya.(dwi/sky)

Jogja Raya