RADAR JOGJA – Pemerintah pusat telah mengeluarkan kebijakan larangan mudik Lebaran tahun ini untuk semua sejak beberapa waktu lalu. Larangan itu berlaku dari 6 Mei hingga 17 Mei mendatang.
Salah satu pihak yang merasakan dampak luar biasa dari aturan itu adalah mereka yang menggantungkan hidup dari usaha angkutan umum. Terutama angkutan umum bus antar kota dalam provinsi (AKDP) maupun antar kota antar provinsi (AKAP).
Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIJ meminta solusi kepada pemerintah pusat atas aturan pelarangan mudik Lebaran tahun ini. Sebab, perusahaan bus di DIJ selama pandemi ini berhenti beroperasi. Hal itu diungkapkan Ketua DPD Organda DIJ Hantoro.
Ia mengatakan, solusi atas pelarangan mudik dibutuhkan untuk membantu perusahaan bus tetap dapat bertahan di masa pandemi. “Kalau ada larangan itu jangan hanya moda transportasi umum saja, ketapi pergerakan manusia pada umumnya,” ujarnya.
Menurut Hantoro, selama ini pihak yang menggunakan moda transportasi darat, terutama angkutan bus adalah masyarakat dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. “Kami sendiri sudah off sejak April tahun lalu,” jelasnya.
Saat disinggung soal nilai kerugian akibat tidak beroperasi sejak April, ia tidak mau menyebut jumlah pastinya. Karena menurut Hantoro, jumlahnya terlalu besar. “Kalau dihitung bikin pusing. Nggak usah dihitung saja,” katanya.
Pihaknya berharap ada solusi dari pemerintah pusat, misalnya pemerintah pusat mengadakan mudik gratis kembali yang diadakan pemerintah. Dengan adanya mudik gratis, pihak perusahaan bus jasanya dibeli oleh pemerintah, sehingga dapat bertahan.
Hantoro menjelaskan, mudik gratis yang diadakan pemerintah seperti sebelum pandemi dilakukan pendataan siapa saja yang ikut dalam mudik gratis. “Kan didata siapa saja yang pulang, lalu wajib memenuhi syarat. Kami juga siap menerapkan prokes, sehingga mudah untuk tracing-nya,” tandasnya.
Pandemi membuat banyak orang belum bisa lagi berkumpul dengan keluarga besarnya. Ridho Julianto misalnya. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri (PTN) di Jogja ini mengaku terakhir kali mudik pada Idul Fitri tahun 2019.
Ia urung kembali lagi ke kampung halamannya di Sumatera Selatan, lantaran situasi pandemi yang menurutnya belum aman. Lagi pula perlu banyak biaya jika harus pulang dengan pesawat terbang. “Harus ikut tes ini itu. Lagi pula bandara juga jauh dari rumah saya di sana,” jelasnya. (kur/laz)

Jogja Raya