RADAR JOGJA – Pandemi Covid-19 memaksa para siswa sekolah daring. Kondisi ini membuat siswa memiliki banyak waktu luang. Kertimbang hanya mengganggur, beberapa pelajar di Kapanewon Samigaluh memilih melakukan kegiatan produktif, yakni membuat alat musik gitar.

IWAN NURWANTO, Kulonprogo, Radar Jogja

Kesibukan terlihat di bengkel kayu milik Joko Kuncoro yang berada di Padukuhan Jetis, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh, Kulonprogo. Ada puluhan anak usia sekolahan sibuk berjibaku dengan gergaji mesin dan amplas.
Anak-anak ini adalah para siswa SMK di Kulonprogo yang memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat alat musik gitar. Hal itu mereka lakukan karena selama masa pandemi, kegiatan sekolah tatap muka ditiadakan.
Salah seorang siswa pembuat gitar, Febrian Gitario, mengakui selama menjalani sekolah daring ia dan beberapa temannya menjadi banyak memiliki waktu luang. Daripada menganggur dan melakukan kegiatan yang tidak berguna, mereka memilih untuk mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat.
Bermodal niat dan kemauan, Febrian dan temannya kemudian belajar tahap demi tahap dalam pembuatan gitar. Mulai cara memotong kayu hingga menyetel alat musik itu berbunyi nyaring. Dia juga memanfaatkan video yang ada di YouTube sebagai tambahan informasi.
“Kami membuat gitar untuk mengisi waktu luang saja, karena selama pandemi ini kan sekolah dilakukan secara daring. Sehingga waktu luangnya cukup banyak. Juga biar tidak jenuh,” ujar Febrian.
Diakui, awal belajar adalah hal yang tidak mudah. Butuh waktu berbulan-bulan agar gitar buatannya bisa dikatakan sempurna. Namun berkat bimbingan pemilik bengkel kayu, kini dia dan teman-temannya bisa membuat gitar yang bisa dikatakan layak jual.
Menurut Febrian, hal yang cukup sulit dalam pembuatan gitar kayu adalah proses memotong lembaran kayu sesuai pola bentuk gitar. Awalnya sering salah-salah. Sementara untuk proses lain seperti mengamplas dan mengecat bodi gitar, belum menemui halangan serius.
Kemudian untuk penyetelan nada gitar, Febrian dan teman-temannya diuntungkan dengan perkembangan teknologi saat ini. Karena saat ini penyetelan nada gitar bisa melalui aplikasi smartphone.
“Kami cukup terbantu dengan aplikasi smartphone, namun kami juga tetap menyetel secara langsung supaya nadanya benar-benar pas,” ungkap Febrian.
Hingga kini total ada 20 unit gitar yang sudah dibuat para siswa SMK ini. Setiap satu gitar setidaknya bisa laku dijual mulai harga Rp 1 juta-Rp 5 juta. Pemasarannya pun tak hanya sebatas di wilayah Jogjakarta saja, namun hingga Jakarta dan luar Jawa. (laz)

Jogja Raya