RADAR JOGJA – Densus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penangkapan terhadap para terduga teroris di beberapa wilayah di DIJ dalam sepekan terakhir. Penangkapan dilakukan di Kabupaten Sleman, Bantul,  dan Kota Jogja.

Menurut catatan Radar Jogja, di Kabupaten Bantul ada empat terduga teroris yang ditangkap. Di Kabupaten Sleman dua orang. Sementara satu sisanya di Kota Jogja. Sehingga sejauh ini total ada tujuh terduga teroris yang sudah diciduk tim Densus 88.

Salah satu lokasi yang digerebek tim Densus 88 adalah di Jalan Suryodiningratan, Kota Jogja. Penggerebekan  dilakukan pada hari Minggu (4/4) siang, di tengah hujan deras yang melanda Jogja dan sekitarnya.

Ketua RT setempat Setyo Karjono mengatakan, Densus 88 mendatangi lokasi pada Minggu siang sekitar pukul 13.30. Ia mengaku diminta oleh Densus 88 untuk menjadi saksi penggeledahan rumah itu. “Saya sempat diundang untuk mendampingi Densus 88 saat melakukan penggeledahan,” ujarnya.

Menurutnya, beberapa dokumen dan barang-barang diambil oleh Densus 88. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti detail dokumen yang disita. Namun, ia mengatakan dokumen yang diambil cukup banyak karena hampir satu truk penuh. “Peralatan kantor dan lain-lain sampai satu truk,”  tambah Karjono.

Setelah dokumen diambil, ia dipersilakan pulang. Ia tidak mengetahui siapa pemilik rumah itu. Penghuni bangunan disebut kurang berinteraksi dengan warga sekitar. Belakangan diketahui sebuah bangunan yang digeledah adalah kantor Syam Organizer, sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Sementara itu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X memberikan apresiasi terhadap kerja cepat Densus 88. Kaitannya dengan penggeledahan dan penangkapan para terduga teroris yang ada di DIJ.

Namun HB X ragu para terduga teroris itu adalah warga asli DIJ. “Bisa saja orang luar tapi kebetulan tinggal atau bersembunyi di sini. Saya ndak tahu persis,”  katanya kemarin (5/4).

HB X juga menyatakan pihaknya sudah melakukan antisipasi soal kemungkinan adanya potensi bahaya aksi terorisme. Juga untuk menjaga agar tidak terjadi kerumunan di tengah masyarakat. “Kami siapkan program Jogo Wargo, nanti setiap kelurahan atau kampung isinya antara 25-30 orang,” jelasnya.

Sementara itu Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) DIJ Dewo Isnu Broto menyatakan, pihaknya sudah melakukan berbagai upaya untuk meredam perkembangan radikalisme di DIJ. “Kami bekerja sama dengan banyak pihak untuk terus mencegah paham radikal itu, termasuk TNI-Polri, mahasiswa dan banyak pihak,” katanya.

Lebih lanjut Dewo menjelaskan, berdasarkan Permendagri 57 Tahun 2017 tentang Pengelolaan Sistem Informasi Organisasi Kemasyarakatan, pendaftaran ormas baru ada di wilayah pemerintah pusat. Ia juga menyatakan sejauh ini hanya 27 ormas yang terdaftar di Kesbangpol DIJ. “Selain itu saya tidak paham, karena menurut Permendagri pendaftaran ormas ada di pusat,” tandasnya. (kur/laz)

Jogja Raya