RADAR JOGJA – Dalam beberapa hari ke depan cuaca ekstrem masih akan terjadi di wilayah DIJ. Itu dikarenakan sebagian besar wilayah DIJ telah memasuki musim pancaroba.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi (Staklim) Jogjakarta menyatakan, kemunculan Siklon Seroja di perairan selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) juga sedikit mempengaruhi kondisi cuaca di DIJ. Namun sifatnya tak signifikan. “Belokan angin ini terjadi karena ada pusat tekanan rendah di perairan selatan Jawa dan Siklon Seroja di perairan sebelah selatan NTT,” tutur Kepala Staklim Jogjakarta, Reni Kraningtyas kemarin (5/4).

Lebih lanjut, Reni juga menjelaskan bahwa DIJ akan terkena efek sekunder dari bibit siklon tersebut tetapi tidak signifikan. Menurut Reni dampak yang signifikan adalah labilitas lokal yang kua. “Jadi penyebabnya berbagai faktor untuk wilayah DIJ,” tambahnya.

Reni menambahkan, masa peralihan ini diprediksi berlangsung sepanjang April ini. Sepanjang musim pancaroba kondisi cuaca ekstrem berpotensi melanda DIJ. “Pancaroba di wilayah DIJ diprediksi akan berlangsung sampai bulan April ini. Sehingga potensi terjadi cuaca ekstrem masih bisa terjadi di bulan ini,” terang Reni kemarin (5/4).

Menurut analisis BMKG, anomali cuaca tersebut dipengaruhi perubahan kondisi dan dinamika atmosfer saat ini. Di mana terlihat adanya belokan angin di atas wilayah DIJ. Selain itu, pemanasan sinar matahari yang cukup intensif dari pagi hingga siang hari menyebabkan terbentuknya awan Cumulonimbus (CB) yang menjulang tinggi sehingga dapat menimbulkan hujan lebat, kilat atau petir, dan semburan angin kencang.

Sementara itu Gubernur DIJ Hamengku Buwono X menjelaskan, peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau seperti ini sudah terjadi setiap tahun. HB X juga mengatakan pihaknya sudah menyiapkan segala hal untuk mengantisipasi jika terjadi bencana. Termasuk pemanfaatan belanja tak terduga (BTT) jika terjadi bencana. “Dananya sudah siap, kalau tidak ada ya diada-adakan,” tegas HB X. (kur/pra)

Jogja Raya