RADAR JOGJA – Vaksinasi Covid-19 bagi pelaku pariwisata dosis pertama sudah digelar kemarin (5/4). Kendati begitu, sasarannya belum merata. Khususnya pengelola wisata masih minim. Hal itu dikeluhkan pelaku wisata yang belum mendapatkan jatah vaksin.

Pengelola Desa Wisata Tanjung, Ngaglik, Estri Utami mengaku belum mendapatkan jatah vaksin. Dia daftar di hari kedua saat pendaftaran vaksinasi dibuka. Pendaftaran melalui link resmi namun slot vaksin sudah penuh. Sehingga tidak bisa mengikuti vaksinasi drive thru yang dilaksanakan di kompleks Candi Prambanan.

“Kalau saat ini belum dapat, berharap vaksinasi berikutnya dapat,” harap perempuan yang akrab disapa Tami saat dihubungi Radar Jogja kemarin (5/4).

Terkait pendaftaran vaksinasi, banyak yang berminat. Sehingga begitu pendaftaran dibuka, seperti berlomba-lomba mendapat vaksin lebih dulu. Pihaknya yang belum mendapatkan jatah vaksin berharap pemerintah segera memperluas vaksinasi khusus bagi pengelola wisata.

“Di sini (Desa Wisata Tanjung, Red) semua pengelola belum mendapatkan jatah. Ya, kami masih menunggu informasi lanjutan dari Dinas Kesehatan yang biasa di- share melalui forum grup pengelola wisata,” katanya.

Senada disampaikan Suharyanti, pengelola Desa Wisata Eko Wisata Pancoh, Girikerto, Turi. Dia mengungkapkan, belum semua pengelola mendapatkan jatah suntik vaksin. Dari 30-an pengelola dan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Sleman, hanya ia satu-satunya yang sudah mendapatkan vaksin. “Tadi jam 9 sudah mendapatkan vaksin di Prambanan,” kata Menuk, panggilan akrab Suharyanti.

Dia mengatakan, selama pandemi aktivitas wisata lumpuh total. Dan mulai bangkit belum lama ini, meski kunjungan hanya menjangkau masyarakat lokal Sleman. Dia menilai adanya vaksin, selain untuk mem-protect diri dapat memberi rasa nyaman dan aman bagi pengunjung wisata, juga masyarakat setempat. “Terutama bagi pelaku wisata yang menjual jasa, ini sangat dibutuhkan sekali,”  katanya.

Dia meminta pemerinah agar selanjutnya membuka termin vaksinasi khusus pariwisata. Sebab, bagaimanapun sektor pariwisata telah banyak menyumbang pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Sleman.

Dia menceritakan, alur vaksinasi siang tadi. Mula-mula datang membawa formulir pendaftaran disesuaikan dengan e-tiket dan KTP. Kemudian diberikan barcode, lalu di-print oleh petugas jaga. Setelah itu dilakukan skrining. “Kebetulan tadi di awal tidak lolos. Lalu coba lagi setelah 15 menit, akhirnya lolos,” ungkapnya.

Setelah divaksin, lalu diarahkan ke stan observasi, diminta beristirahat dan jika tidak berdampak pada kondisi suhu badan, maka diperkenankan pulang.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo membeberkan, program vaksinasi sektor pariwisata masih terbatas dan berkelanjutan. Alokasi sementara 5.000 vaksin hingga 9 April mendatang. Vaksinasi menyesuaikan jumlah dosis vaksin yang digulirkan oleh pemerintah pusat.

Saat ini pihaknya baru mendapatkan vaksin 17.820 dosis. Selain untuk pelaku pariwisata, layanan publik dan transportasi lainnya, sisanya diperuntukkan bagi tenaga pendidik dan lansia yang belum mendapatkan jatah vaksin. “Tentu vaksinasi sektor pariwisata dilaksanakan secara bertahap, menunggu pengadaan vaksin berikutnya. Masyarakat diminta lebih bersabar,” tambahnya. (mel/laz)

Jogja Raya