RADAR JOGJA – Kalurahan Guwosari, Pajangan, Bantul, merupakan salah satu wilayah dengan angka kemiskinan yang tinggi. Rata-rata warganya lulusan SMP dan SMA dengan mayoritas berprofesi sebagai buruh harian lepas. Sekitar 60 persen penduduknya masuk kategori miskin pada 2018. “Ini menjadi cambuk bagi kami untuk memutus rantai kemiskinan. Kami yakin, pendidikan adalah salah satu caranya,” cetus Lurah Guwosari Masduki Rahmad saat ditemui di kantornya, kemarin (5/4).

Pengentasan kemiskinan yang melalui pendidikan direalisasikan oleh Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Guwosari melalui program Satu Dusun Satu Sarjana. Program ini merupakan program unggulan Pemkal. “Kami bahkan menjadi pemenang dalam lomba kalurahan di Kabupaten Bantul melalui program itu,” ungkapnya.

Program ini menyasar pemuda Guwosari yang lulus SMA dan memiliki kemauan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun terganjal oleh ketidakmampuan finansial. “Kami berikan ruang untuk melangsungkan pendidikan yang lebih tinggi. Kami bekerjasama dengan salah satu perguruan tinggi swasta yang memberikan beasiswa kepada mahasiswa, dari masuk sampai lulus secara gratis,” ujarnya.

Tahun ini, program memasuki tahun ketiga. Di mana setidaknya terdapat 15 peserta yang telah mengikuti program ini. Terdiri dari enam peserta di tahun 2019 dan sembilan peserta di tahun 2020. “Saat ini kami sedang dalam proses pendaftaran 2021. Baru kami buka seminggu, yang mendaftar lima orang,” sebutnya.

Calon peserta yang mengikuti program ini dapat memilih program studi (prodi) yang sesuai dengan minatnya. Di antaranya adalah pendidikan matematika, pendidikan guru SD, akuntansi, manajemen, informatika, dan sistem informasi. “Peserta program dibebaskan memilih jurusan. Secara prinsip kami melihat passion dari anak-anak. Setelah diterima, mereka selalu kami kumpulkan untuk membuat satu komitmen,” jelasnya.

Komitmen dilakukan berdasar pengamatan, dusun hanya menjadi tempat asal. Di mana ketika pemudanya lulus setelah menempuh perguruan tinggi, justru merantau ke kota. “Sehingga desa hanya ampas (menyisakan, Red) mereka yang tidak berpendidikan. Maka dari awal kami bangun komitmen ketika mau ikut program, sampai orang tua kami hadirkan, kami berharap ada kontribusi ke kalurahan dari diterima sampai lulus. Sehingga kami memiliki SDM yang secara emosional siap membangun desa. Kecerdasan juga sudah digembleng di bangku perkuliahan,” paparnya.

Dalam penyelenggaraannya, program ini menemui sebuah kendala. Di mana ada peserta yang terpaksa gugur menjadi peserta program. Lantaran terkendala teknis, nomor induk siswa nasional (NISN) miliknya tidak aktif. “Sehingga hal teknis seperti itu yang sulit kami tindaklanjuti karena itu hal mendasar,” ucapnya.

Salah satu peserta program, Tiya Nuryani mengaku senang dan bersyukur. Perempuan yang kini menempuh Prodi Manajemen itu pun mengucapkan terima kasih kepada Pemkal Guwosari. Lantaran telah memberikan kesempatan untuk mengikuti program ini. Sehingga saya dapat mewujudkan cita-citanya untuk kuliah.

“Prodi yang saya tempuh sesuai dengan cita-cita saya yang ingin terjun ke dunia bisnis atau wirausaha. Harapan saya dengan mengikuti program ini, bisa membanggakan kedua orang tua, bisa mewujudkan cita-cita, dan dapat berprestasi di bidang akademik dan nonakademik,” ujarnya. (fat/laz)

Jogja Raya