RADAR JOGJA – Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri kembali melakukan penggeledahan di wilayah Jogjakarta, Minggu (4/4). Kali ini menyasar sebuah kantor di wilayah Kumendaman, Mantrijeron, Kota Jogja. Tepatnya sebuah kantor penggalang donasi bantuan bernama Syam Organizer.

Penggeledahan kali ini berlangsung cukup lama. Tepatnya dari pukul 13.30 hingga sekitar 17.00. Sejumlah barang bukti diamankan dalam penggeledahan ini. Mulai dari dokumen hingga beragam perlengkapan kantor.

“Kemarin siang (4/4) saya dijemput orang mengaku dari Densus 88. Memberitahukan ada penggeledahan, saya diminta menjadi saksi. Yang diamankan kebanyakan dokumen, peralatan kantor dan alat komunikasi,” jelas Ketua RT 30 Kumendaman Mantrijeron, Setyo Karjono ditemui di kediamannya, Senin siang (5/4).

Terkait detail dokumen yang diamankan, Setyo mengaku tak mengetahui secara detil. Namun, dia memastikan dokumen tersebut berisikan angka-angka. Selain itu adapula beberapa brosur dalam dokumen tersebut. Jumlah barang bukti dokumen paling mendominasi selama penggeledahan. Setyo menceritakan personel Densus 88 memeriksa secara rinci. Setiap kertas dokumen diteliti satu per satu.

“Kebanyakan memang berkas, ada angka-angkanya. Tentang berkas itu dana atau apa tidak tahu. Banyak brosur juga, dimasukan kantong plastik banyak sekali. Lebih dari 10 kantong,” katanya.

Saat penggeledahan, Setyo melihat ada dua karyawan Syam Organizer. Kala itu, kedua orang ini juga menunjukkan ruangan perkantoran 2 lantai tersebut. Termasuk letak dokumen dan beberapa barang bukti lainnya.

Setyo memastikan kedua orang tersebut bukanlah warga Kumendaman. Keduanya diketahui sebagai penjaga gedung Syam Organizer. Sehingga kesehariannya memang berjaga di gedung bangunan tersebut.
“Dua orang sebelum penggeledagan sudah ada di situ. Tadi sempat ikut masuk menunjukkan, ini ruang siapa, tempat apa. Setelah itu kemudian dibawa atau tidak, saya kurang tahu,” ujarnya.

Interaksi penghuni kantor Syam Organizer juga tak intens. Setyo menuturkan para karyawan kantor tersebut jarang berkomunikasi dengan warga. Termasuk dalam kegiatan perkampungan.

Syam Organizer, lanjutnya, berkantor sejak 2019. Walau begitu sekitar 2018 telah ada dengan nama yang berbeda. Kala itu aktivitas perkantoran juga tak terlalu terbuka. “Keseharian tidak ada yang mencurigakan, warga sini tidak ada yang curiga karena lembaga sosial. Tapi memang sosialisasi (dengan warga) kurang. Ada kegiatan aktivitas tidak memberitahu, lalu ada kegiatan kampung juga tidak ikut,” katanya. (dwi/ila)

Jogja Raya