RADAR JOGJA – Bagi anak 90-an pasti tak asing lagi dengan mainan Crush Gear (CG). Ya, mainan mobil ini memang sempat populer di jamannya. Tak hanya digemari anak kecil, CG juga biasa dimainkan oleh orang dewasa.

Selain konsep permainan yang menarik, CG juga memiliki arena pertandingan tersendiri. Berbentuk oval dengan bermacam-macam ukuran.
Permainan CG, menurutnya seru karena saling menghancurkan. Layaknya boxing, cara bertarungnya seperti itu dari waktu yang ditentukan. “Yang KO atau terbalik dan keluar ring itu yang kalah,” kata Gear Fighter -julukan penggemar CG- Andreas Take Rahmadi Carvallo kepada Radar Jogja, Rabu (24/3).
Uniknya lagi, di turnamen resmi CG ternyata mempunyai regulasi perlombaan sendiri. Mulai dari kategori, aturan setiap ronde, berat mobil, bahkan punya juri dan hakim garis. Ada tiga kategori yang biasa dipertandingkan dalam turnamen. Di antaranya standart box, free for all, dan custom.
“Panitia sudah menentukan berat CG tidak lebih dari 175 gram. Untuk semua komponen bebas yang penting jarak senjata dan jarak lantai ada dua milimeter. Per ronde ada tiga menit waktu tandingnya,” jelas pria asal Sleman itu.
Bagi Andre, CG menjadi salah satu mainan yang sangat membekas dan berkesan. Yang membawanya mengenang masa kecil. “Anak-anak jaman dulu kan paling dekat sama tv daripada hp. Setiap minggu kumpul nonton tv dari pagi ada Tamiya terus anime sampai siang ada Crush Gear,” kenangnya. “Jadi sampai saat ini sudah 17 tahun lebih saya suka sama mainan CG ini,” tambahnya.
Andre mengatakan, saat ini CG masih tetap eksis. Penggemar atau yang sedang mendalami dunia CG cukup banyak tersebar di Indonesia. Bahkan, di DIJ pun ada komunitas pecinta CG, yakni Paguyuban Crush Gear Yogyakarta. Komunitas ini sudah punya puluhan anggota.
Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan di komunitas tersebut juga beragam. Mulai gathering, kopdar (kopi darat), hingga menggelar turnamen. “Kami gathering di kafe, biasanya yang melihat gitu sekalian diajak main dipinjamin biar merasakan lagi. Intinya buat nostalgia,” papar Andre.
Jika dulu harga CG terbilang sangat murah. Namun kini per mobil bisa dipatok dengan harga tinggi. Yakni sekitar Rp 1 juta untuk yang KW hingga Rp 2,5 juta untuk yang Ori. Harga yang relatif mahal itu lantaran saat ini CG sudah mulai jarang diproduksi.
Saat ini, Andre sudah memiliki lebih dari 30 CG. Selain untuk koleksi, pria 29 tahun itu juga membuat CG berdasarkan pemintaan alias custom dari pelanggan. Bahkan, CG buatan Andre sudah banyak dipesan oleh berbagai negara. Seperti Tiongkok, Hongkong, hingga Kanada. Satu CG dibanderol dengan harga Rp 500 ribu hingga Rp 4 juta. “Harganya beda-beda tergantung tingkat kesulitan pembuatannya,” ucap Andre. “Total saya jual selama pandemi ada 16 mobil, dan untung sekitar Rp 10 juta,” imbuhnya. (ard/bah)

Jogja Raya