RADAR JOGJA – Es dung-dung, siapa yang tak mengenalnya. Es yang sempat jadi jajanan favorit di era tahun 1990-an. Rasanya yang manis, gurih, dan dingin segarnya meninggalkan kenangan tersendiri bagi para penikmatnya.
Salah satu penikmat es dung-dung adalah seorang aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) Baharuddin Kamba. Ia menceritakan pernah merasakan nikmatnya es dung-dung saat kelas3 SD. Kala itu masih seharga Rp 25 – Rp 50. “Tergantung mau pakai cone atau pakai roti,” katanya.
Kepala Divisi Humas Jogja Police Watch (JPW) ini paling suka dengan varian cone daripada roti. Karena cone yang berbentuk kerucut itu, selain sebagai wadah es juga bisa dimakan. “Soal sensasi esnya enak banget karena ada rasa gurih, manis campur asin. Apalagi ada cone yang krenyesnya tambah nikmat,” ujar laki-laki 42 tahun ini.
Bapak tiga anak itu dulu kerap menunggu penjual es dung-dung melewati depan rumah selepas pulang dari sekolah. Siang hari dengan cuaca terik sangat pas untuk menunggu es dung-dung dengan bunyi yang khas itu lewat depan rumahnya.
“Karena saking sukanya, minta uang jajan untuk beli es dung-dung. Kesan yang tidak pernah saya lupakan adalah saat es krimnya meleleh atau jatuh diusilin teman,” cerita Kamba.
Namun, paling menyedihkan bagi pria yang juga anggota Forum Pemantau Independen (Forpi) Kota Jogja itu saat musim hujan tiba. Karena dipastikan penjual yang identik dengan gerobak dorong itu tidak berjualan. “Paling sedih ya kalau musim hujan itu. Kalau pengen ya nggak ada yang lewat satu pun,” tandasnya.
Di era saat ini, penjual es dung-dung keliling sudah semakin jarang ditemukan. Atau ada sebagian yang sudah me-rebranding jualannya di tempat tertentu. Saat ini pula berbagai rasa dan varian es dung-dung sudah banyak dijual. Ada yang menambah varian dengan rujak es krim. “Tapi banyak toko besar yang jualan es krim dung-dung,” tambah Kamba. (wia/laz)

Jogja Raya