RADAR JOGJA – Bagi penggemar es krim, pasti tak asing lagi saat mendengar nama es dung-dung. Ada yang menyebut es pung-pung. Es jadul ini dulu sangat populer di kalangan masyarakat. Dinamakan dung-dung karena bunyi dung..dung.. dari kenong yang dipukul penjual saat keliling menjajakan esnya.
Es dung-dung dapat dinikmati dari generasi ke generasi. Rasanya manis dan gurih, juga menyegarkan. Harganya pun sangat merakyat. Hingga saat ini es krim yang dijual menggunakan gerobak dorong itu masih cukup digandrungi berbagai kalangan. Anak kecil hingga orang dewasa.
Namun, kini keberadaan penjual es dung-dung terbilang semakin langka. Popularitas “es krim kawe” ini mulai tergeser seiring perkembangan zaman. “Dulu kan orang jualan es belum banyak, belum ada kayak pop es jus dan lain-lain. Kalau sekarang sudah full, saingannya lebih banyak dan semakin ke sini makin susah,” kata penjual es dung-dung di Jogjakarta Totok Utomo saat ditemui Radar Jogja di daerah Gejayan, Kamis (1/4).
Es dung-dung milik Totok disajikan dalam wadah berbeda. Yakni cone berbentuk kerucut dan gelas plastik. Juga ditambah dengan topping seperti mutiara, potongan roti, dan coklat.
Untuk cone dipatok dengan harga Rp 2 ribu. Sedangkan gelas plastik Rp 5 ribu. “Kalau harga jelas beda ya. Kalau dulu cone harganya Rp. 500 dan yang gelas Rp. 2 ribu. Saya bikin dengan dua varian, rasa coklat dan vanila,” ujar pria 39 tahun itu.
Cara pembuatan es dung-dung ini sangat simpel. Berbahan dasar santan, tepung maizena, gula pasir, air putih, dan pewarna makanan. Kemudian bahan itu dimasukkan ke wadah yang berbentuk seperti tabung yang ada di gerobak dorong.
“Adonan langsung di masukkan di tabung tempat es yang ada di gerobak. Habis itu diputar, bikinnya diputar manual pakai tangan selama 1,5 jam,” beber Totok.
Yang tidak kalah penting, alas tabung itu harus diberi es batu campur garam. Agar campuran yang didinginkan dengan diputar-putar secara manual itu, akan menggumpal layaknya es krim. “Bikinnya gitu saja, sangat gampang. Capek pas muternya saja,” tambahnya.
Sudah lebih dari 10 tahun pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu berjualan es dung-dung. Biasanya, Totok menjajakan jualannya dengan berkeliling di daerah Jalan Gejayan hingga Ring Road Utara.
“Pembeli rata-rata anak kecil. Dulu sebelum korona, ya mahasiswa juga suka beli karena saya juga lewat kampus-kampus,” terang Totok. (ard/laz)

Jogja Raya